I Met My Ex-Girlfriend On A Jazz Festival, And It Was….

Dahulu kala, ketika baru mulai berkecimpung di situs blogging WordPress, ada suatu tips untuk membuat judul yang menarik dan tidak biasa. Tentunya, tujuannya untuk menarik perhatian pengunjung blog supaya mereka membacanya.

Voilà! Judul post ini adalah pengejawantahan tips-tips menulis judul dari WordPress tersebut!

But, since I have been studying and akan bekerja di bidang pekerjaan yang mengutamakan fakta, I can assure you that the title is 100% true. Yes, I met my ex-girlfriend on a jazz festival.

Specifically, on 39th Jazz Goes to Campus (JGTC) in Faculty of Economy and Business campus, University of Indonesia (or just Universitas Indonesia, as my partner always says). Lebih detail lagi, pada tanggal 27 November 2016.

Pertemuan tersebut adalah pertemuan pertama setelah pertemuan terakhir beberapa bulan lalu. Beberapa bulan itu benar-benar beberapa bulan; like 6-7 months ago. Yes, memang sudah lama tidak bersua, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Except for some occasions, like birthday, graduation, asking for help… Wow. Just wow.

Pertemuan hari itu terjadi di depan ticket box JGTC yang lumayan dipenuhi oleh orang-orang. Entah mereka ingin menikmati “kekacauan yang rapi” dalam musik jazz; atau penampilan artis non-jazz yang masuk ke lineup; atau sekedar check in di event “ter-asoy” di FEB UI bulan November ini. Kita tak perlu mengurusi mereka, kan?

Wajah lama itu muncul di hadapanku yang sontak menimbulkan reaksi-reaksi fisika serta kimia di dalam tubuh. Entah apa yang terjadi, tapi aku yakin ada reaksi di dalam tubuhku yang besar ini.

Reaksi-reaksi tersebut tetap bertahan hampir sepanjang hari, di setiap kegiatan yang kulakukan di event besar jazz tersebut. Ketika memanggul tripod dan kamera yang beratnya masih lebih ringan daripada sekantung semen (oh yeah, I should tell you that I was “working” during the event, bukan datang sebagai penonton yang sepenuhnya menikmati pertunjukan), ketika menonton pertunjukan di panggung kecil yang nama grup penampilnya (kalau aku tidak salah) adalah Trisouls

Sedikit tentang Trisouls: penampilan mereka lumayan memikat hatiku, terutama sang pemukul “gendang” yang memukul gendangnya sepenuh hati. Aku jadi teringat cerita kakak-kakak relawan Bina Antarbudaya di mana ada orang yang bermain musik sepenuh hati dalam penampilan di malam perpisahan walaupun ia sebenarnya tidak beigtu terlihat oleh penonton. Such wow.

Begitu juga saat penampilan Monita Tahalea: reaksinya masih terasa. Mungkin reaksi hasil ketemu mantan kekasih ini bercampur dengan kekagetanku melihat seorang Gerald Situmorang mengiringi Monita di atas panggung. Like… Wow, really? This guy? Wow! Aku kurang fokus dengan penampilan mereka karena aku fokus dengan layar kameraku, tetapi kuyakin penampilan mereka memikat hati para penonton.

02-monita-dan-gesit
Oh wow. Siapa itu di sebelah kanan Monita yang memegang gitar? Oh! Ternyata Gerald Situmorang alias Gesit. Much wow.

Reaksi kimia dan fisika yang tercipta dari “pertemuan kembali” dengan mantan kekasih tersebut masih terus mengiringi ketika aku menyambangi beberapa panggung untuk menonton serta mengambil gambar beberapa penampil: Kgomotso Xolisa Mamaila dari Afrika Selatan yang membagikan semangat goyang Afrikanya kepada penonton yang sayangnya kurang merespon baik;

03-kgomotso
Penampilan Kgomotso Xolisa Mamaila dari Afrika Selatan dengan energi dan keceriaan khas benua Afrika

Raisa yang parasnya layaknya seorang bidadari yang diintip Jaka Tarub dan menjadi penampil yang menyedot penonton yang jumlahnya tentunya lebih dari siswa SD Muhammadiyah Belitung di cerita Laskar Pelangi;

serta tamu internasional kebanggaan JGTC ke-39 yaitu Daniel Powter. Sayangnya, aku dan sebagian besar  penonton saat itu hanya mengenal satu lagu dari Powter, sehingga tidak bisa berkontribusi banyak pada “penampilan spesialnya” malam itu. Hal ini terkandung dalam curhatan sang mantan kekasih setelah acara. Wait… curhatan? Oh wow, terlalu banyak informasi yang keluar ya…

05a-powter
Poor Daniel. Pardon us for not knowing some of your songs. But still, your performance is superb!

Tapi, sebagian besar penonton (termasuk aku dan mantan kekasihku) setuju bahwa orgasme telinga (yang orang-orang biasa sebut dengan “eargasm”) timbul pada penampilan Barasuara. Kumpulan orang gila ini nekat melangkahkan kakinya ke ranah jazz dan bermain bersama Indra Lesmana serta Adra Karim. “Untuk menambah suara dan sensasi electone,” kata mereka dalam konferensi pers yang kuhadiri malam itu.

Dan benar saja. Sensasi penampilan langsung Barasuara yang biasanya meninggalkan senyum dari telinga ke telinga di wajah penontonnya menjadi semakin mantap ketika dipadukan dengan permainan jemari Indra dan Adra di atas electone dan keytar mereka. Satu kata “anjeng” yang hampir selalu dilontarkan setiap mulut yang ikut menonton dalam pertunjukan terakhir di panggung bernama Pucuk Harum sekiranya dapat menggambarkan kenikmatan yang timbul dari penampilan kolaborasi tersebut. Atau seperti yang kubilang dalam salah satu post media sosialku: “Klimaks!”

06a-barasuara
Barasuara bersama Adra Karim (kiri)
06b-barasuara
Iga dan “permaisuri-permaisurinya” yang dapat menyalurkan energi positif kepada para Penunggang Badai

In the end, semua hal yang berjalan hari itu berakhir dengan lebih bahagia daripada yang dibayangkan. Event jazz berjalan lancar (sepertinya, sepengamatanku sebagai orang luar)…

liputanku berjalan lancar pula (dengan indikator lancar adalah berhasil mengumpulkan gambar yang sekiranya dibutuhkan) walaupun rasanya belum se-maksimal liputan-liputan sebelumnya. Konsekuensinya adalah rasa pegal yang terasa di beberapa organ dan persendian…

08-liputan
The hard working team for TV UI @ 39th Jazz Goes To Campus!
(Thanks to temennya Mika [tengah] atas foto kecenya menggunakan lensa tele)
Oh ya! Soal kegalauan yang tetiba muncul karena “pertemuan” kembali dengan sang mantan kekasih. Oh yah, ada kegalauan yang sempat muncul. Galau, resah, atau apapun itu namanya. Tapi yah namanya juga orang yang kurang peka, I can’t quite translate what were those feelings: apakah itu galau karena melihat seseorang dari masa lalu yang tetiba muncul di depan hadapan atau senang karena bertemu dengan seseorang dari masa lalu. But in the end, it all ended… nice.

So, I met my ex-girlfriend on a jazz festival, and it was pleasing.


Ketika seorang oportunis seperti saya mencoba memanfaatkan tugas liputan sebagai kesempatan untuk berliburan ke festival jazz, lahirlah tulisan ini. Sayangnya, aku lupa kalau datang sebagai media akan memiliki hak dan kewajiban yang berbeda pula. Mungkin tanda pengenal media bisa membawamu lebih dekat dengan artis yang tampil di panggung (literally sangat dekat, sekitar 10 cm); hak spesial itu juga memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas mengumpulkan gambar selama di acara. Tapi secara keseluruhan, aku menikmati pompaan hormon adrenalin yang sudah lama tidak kurasakan dengan berada di lapangan sambil membawa peralatan-peralatan yang lebih berat dari setir mobil yang belum dilengkapi power steering. Semua keringat, pegal, haus, dan lapar terbayar dengan kumpulan gambar-gambar yang (sebenarnya belum tentu) ciamik.

So, I should thank TV UI for the opportunity. Saya tahu bahwa saya bukan kru yang baik terkait dengan kehadiran lahir batin terutama. Jadi, terima kasih atas kepercayaannya dengan memberikan kesempatan untuk turun kembali ke lapangan.

Aku juga seharusnya berterima kasih kepada seluruh pihak yang ada di belakang maupun depan layar JGTC ke-39: panitia-panitia yang terlihat mencurahkan segenap jiwa raga sampai ada yang tepar di ruang panitia serta penampil-penampil yang ciamik dan memiliki keunikannya masing-masing. Special thanks for Barasuara yang telah membantuku memberikan keberanian serta tenaga untuk menyalakan api dan lentera supaya bisa lepas dari belenggu. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu.

And… should I give my thanks to my ex-girlfriend, who I met accidentally and kinda stirred up my day and also inspired me to write this piece? Maybe yes. So, thank you.

Jatuh Cinta Dalam Wadah Seni

I’ve been not good these days. Broken-hearted, overwhelmed, trapped in the middle of things I don’t fond of. Gelap, kelam, suram, galau: kata-kata yang cocok dengan hari-hariku beberapa bulan ini. But at some point, there will be silver lining, just like what Bradley Cooper believes in Silver Linings Playbook. And yes, I have met my silver lining.

Continue reading Jatuh Cinta Dalam Wadah Seni

Paket Liburan Binabud: Aselole JOSS!!

Tahun 2013 adalah tahun pertama aku dapat menikmati liburan semester dari kampus tercinta (tercinta karena ngasih liburan panjang) selama 3 bulan. Well, pada awalnya memang hanya kebosanan yang mampir ke rumah karena sehari-hari hanya duduk terdiam atau menggerakkan beberapa bagian tubuh saja di depan komputer. Tapi untungnya, dari beberapa saat sebelum liburan dimulai, banyak tawaran-tawaran kegiatan pengisi liburan yang sangat menarik untuk diikuti. Menarik karena kegiatan-kegiatan itu berkaitan dengan YBA atau Yayasan Bina Antarbudaya, a partner of AFS Intercultural Programs (begitu kata logo yang biasa terpampang di spanduk, banner, dan poster).

Ritual tahunan binabud (singkatan untuk Bina Antarbudaya) ini sebenarnya udah mulai akrab di telingaku sejak pertama kali aku volunteering di Seleksi Chapter Jakarta 2 tahun lalu. Namun, apa daya, seragam putih abu-abu yang masih kukenakan dulu membatasiku untuk menjadi bagian dari ritual itu. Baru sekarang ketika aku sudah menanggalkan seragam itu selama setahun, aku bisa mengerti apa sejatinya ritual tahunan yang bisa disebut “Paket Liburan” ini dan juga menjadi bagian darinya.

Jadi, sepemahamanku, Paket Liburan Binabud ini terdiri atas beberapa kegiatan yang secara garis besar terbagi ke dalam dua kategori, sending dan hosting. Kegiatan sending terdiri atas orientasi untuk siswa yang akan mengikuti program (biasa disebut Orientasi Pra-Keberangkatan) dan orientasi untuk siswa yang baru selesai mengikuti porgramnya masing-masing (biasa disebut Reorientasi). Kegiatan hosting terdiri atas orientasi untuk siswa asing yang baru datang ke Indonesia (baru kali ini disebut On-Arrival Orientation Camp atau OAOC) dan kamp orientasi untuk mereka yang selesai bercengkrama dengan Indonesia dan akan pulang ke negaranya masing-masing (biasa disebut End of Stay atau EOS).

Sebagai pemula yang masih lugu dan imut (atau nubi yang masih tolol alias nubitol), aku cuma mengikuti beberapa dari banyak daftar kegiatan tersebut, yaitu Orientasi (Asia Pasifik dan Nasional) dan OAOC. Well, sebenarnya karena ditawarin dan nyanggupinnya cuma dua sih. Ajaibnya, di tiga kegiatan itu, aku memiliki tugas untuk menyayangi dan bermesraan dengan segala hal yang menyangkut roda, setir, dan mesin dan juga jalan dan jalan-jalan… alias bagian Transportasi. Itu sangat WOW! WOW Bangeeedhhh!

Dimulai dari Orientasi Asia Pasifik (28 Juni – 2 Juli 2013) dengan peserta 3 orang: Mario dari Jakarta, Rama dari Semarang, dan Billa dari Surabaya. “Orie kecil” ini juga sekaligus menjadi perkenalan dan latihanku menjelang kegiatan Orie Nasional yang diklaim akan lebih ramai, lebih sibuk, dan lebih hectic dari orie kecil ini. Lalu berlanjut ke Orientasi Nasional (27 Juli – 5 Agustus 2013) dengan peserta 117 orang yang jumlahnya mengalahkan 30-40an panitia. Klaim tentang orienas ini yang katanya lebih hectic dan ramai memang terbukti setelah 10 hati mengelap keringat dengan handuk Good Morning yang udah sangat dekil. Rangkaian paket liburanku pun ditutup dengan O Ei O Si (24-26 Juli 2013) yang mengenalkan Indonesia secara lebih jauh kepada 38 siswa-siswi asing dari berbagai negara. Yaa singkatnya ketemu dan ngenalin bule ke Indonesia dah.

Mungkin kurang tepat kalau Paket Liburan ini disebut sebagai tugas kepanitiaan. Walaupun ada bagian-bagian yang stressful dan membuat keringat mengucur deras dan ngos-ngosan, hampir setiap detik yang berjalan dapat dinikmati dengan sepenuh hati dan sangat bahagia. I really don’t know why; mungkin karena udara Jakarta dan Depok yang membuatku bisa bahagia… atau mungkin suasana sekitar Ramadhan-Syawal yang membuat hati menjadi berbunga-bunga… atau mungkin karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat hebat sehingga aku bisa menikmati setiap detik yang kujalani di Paket Liburan ini.

Ngomong-ngomong soal orang-orang yang sangat hebat… Aku merasa bahwa orang-orang yang terlibat di dalam Paket Liburan ini tidak tersusun dari molekul-molekul karbon semata seperti manusia kebanyakan. Sepertinya baik kakak-kakak panitia dan peserta program adalah hasil eksperimen seorang profesor yang menggunakan bumbu, gula, dan hal-hal yang menyenangkan yang kemudian ditambahkan dengan cairan X. Tapi hasilnya tidak menjadi 3 bocah kecil yang bisa terbang dan berkekuatan super, melainkan menjadi sekumpulan manusia-manusia hebat yang selalu memancarkan dan menularkan kebahagiaan dan kehangatan kasih sayang. Kehangatan itulah yang kurasakan selama rangkaian Paket Liburan tersebut, yang mengubahku dari sebongkah lemak tak berjiwa menjadi seorang manusia yang utuh dan bisa kembali menyadari bahwa di kehidupan yang keras dan tak berperasaan, masih ada teman-teman yang dapat membuat kita tersenyum dan menikmati indahnya dan hangatnya kasih sayang yang menyentuh hati.

Selain hangatnya kasih sayang dari semua orang, Paket Liburan ini juga sangat berkesan karena ini adalah kali pertama aku bisa menyanyikan lagu “We Are AFSers”. Sebagai seorang pejuang di seleksi binabud 3 tahun yang lalu yang gugur duluan dan masih sangat susah move on, nyanyiin lagu “We Are AFSers” dengan segenap jiwa dan semangat itu menjadi salah satu mimpi terindah, apalagi mewujudkan setiap baris lirik lagunya. Mungkin udah gak mungkin untuk mewujudkan baris pertama dari lagu itu sebagai siswa SMA peserta program, tapi mungkin masih belum terlambat untuk mewujudkannya sebagai seorang volunteer. Kalaupun terlambat… Well, better late than never, isn’t it?

Last but not least, terima kasih untuk Kak Upi (@wiegati) dan Kak Binar (@binarss) yang telah “menjebak” saya di Paket Liburan yang superduper indah ini. Terima kasih juga untuk semua kakak-kakak yang gak bisa disebutin satu persatu karena terlalu banyak; terlalu banyak jumlah orangnya dan terlalu banyak jumlah kasih sayang, cinta, semangat, dan senyuman yang diberikan dan ditularkan selama Paket Liburan. Kalau ada urusan bus dan transport lainnya yang harus diselesaikan di kepanitiaan lain, mungkin saya bisa bantu (<- kode supaya diajak kepanitiaan lagi).

Selamat berjuang wahai kalian peserta program sending yang berada di seberang lautan sana dan program hosting yang sedang berpanas-panasan di Indonesia! Selamat menikmati setahun yang indah yang belum sempat diriku nikmati. Yang penting, tetap sehat dan tetap semangat!

Aselole JOSS!

P.S.
Terima kasih juga untuk Kak Mute (@prawitamutia) yang telah menularkan semangat dan inspirasi untuk menulis kisah yang indah ini. Kisah tentang perjalanan yang hampir sama dari sudut pandang yang berbeda bisa dilihat di sini. Cheers! 🙂

Ternyata Apel Bisa Punya Keluarga!!

P.S. This is not a sponsored blog post to promote a new movie. This is just my writing to share the kindness and spirit that I get and was inspired by Kak Iwan ^_^

Apel. Entah kenapa buah ini selalu menimbulkan hal-hal kontroversial sejak masa diciptakannya manusia pertama oleh Tuhan. Adam “diusir” dari surga Tuhan karena memakan buah yang dilarang dimakan oleh Tuhan. Buah yang dimakan oleh Adam tersebut diandaikan sebagai buah apel.

Baru-baru ini, apel juga menimbulkan sebuah kehebohan di dunia IT. Not the literally apple, but of course, apple in the other form. Not apple as a fruit, but apple as a brand. Apel hampir menguasai pikiran seluruh manusia modern di dunia dengan gadget-gadgetnya yang sedap dipandang, tapi tidak sedap bagi dompet di kantong. (Ini juga yang membuatku tidak terlalu tertarik untuk “mengoleksi” gadget Apple)

Tapi tidak hanya itu saja kehebohan-kehebohan yang ditimbulkan oleh apel. Tidak disangka-sangka, apel lokal yang berasal dari Indonesia juga bisa menimbulkan kehebohan di dalam negeri. Apel lokal ini tidak kalah hebohnya dengan apel dari Silicon Valley itu.

This local apple was brought by a man. Not just an ordinary man, but the chosen one. Seorang laki-laki yang bertahan hidup dengan berjuang melawan banyak keterbatasan. Seorang laki-laki yang telah mengalami sebuah fenomena sosial yang dinamakan mobilitas sosial vertikal. Seorang anak supir angkot dan ibu yang tidak tamat SD yang (pernah) merasakan keindahan dan detak jantung kota tersibuk di dunia, New York.

Seorang laki-laki yang kupanggil Kak Iwan Setyawan.

Lewat dua bukunya yang berjudul 9 Summers 10 Autumns : Dari Kota Apel ke The Big Apple dan ibuk,, Kak Iwan telah menggetarkan Indonesia. Lebih tepatnya hati orang-orang Indonesia (yang membaca bukunya). Kak Iwan telah “menampar” Indonesia bahwa hidup itu akan terasa manis apabila dicapai melalui perjuangan. Lebih manis lagi apabila perjuangan tersebut adalah sebuah perjuangan yang “berdarah-darah”.

Surprisingly, in order to be able to reach more people, kisah perjuangan Kak Iwan mengalami sebuah transformasi. Dari kalimat perkataan di buku menjadi dialog lisan para aktor. Dari Gang Buntu yang dibayangkan dari kalimat-kalimat menjadi Gang Buntu yang dapat dilihat langsung lewat mata. Dari tinta yang dituliskan di atas kertas menjadi gambar yang ditayangkan lewat proyektor. Dari buku menjadi film.

9 Summers 10 Autumns dibuat hidup di dunia yang lain. Dunia film. Kalau selama ini yang berbicara kepada kita adalah kertas-kertas yang diam, kali ini yang menyampaikan pesan dan semangat keluarga Kak Iwan adalah aktor dan aktris (walaupun istilah aktris tidak begitu cocok menurut Kak Hayria). Film ini akan dirilis sebentar lagi, sekitar pertengahan April menurut PH yang “menghidupkan” 9 Summers 10 Autumns The Movie. <- tidak bermaksud promosi

Baru-baru ini, PH yang bekerja sama dengan Kak Iwan mengadakan sesi sharing dan empowering (itu yang tertulis di email undangan ke acara ini) dengan para pembaca dan calon penonton 9 Summers 10 Autumns. Beberapa tempat telah dikunjungi dan sudah berhasil membentuk suatu “keluarga” yang disebut Keluarga Apel.

9 Summers 10 Autumns th
New York New York in BSD, Tangerang Selatan

24 Februari 2013, tim 9S10A mengunjungi BSD, Tangerang Selatan untuk mengadakan sesi sharing dan empowering ini. Aku, yang sedang di rumah pas weekend, memutuskan untuk datang ke acara ini. Sendiri, karena keluarga sedang tidak bisa ikut menemani dan begitu pula dengan “seorang putri yang tersayang”. Hujan, badai, (sedikit) banjir kutempuh… karena aku pergi menggunakan mobil.

I’m not gonna tell ya the whole story because this post is already too long. I’ll just tell ya the interesting points of a great day I’ve been.

Beda dari bayanganku sebelum datang ke Bangi Kopitiam hari itu, Keluarga Apel lebih dari kumpulan sharing biasa. Walaupun samar, ada benang pink (because ‘merah’ is the mainstream one) yang terasa menghubungkan anggota Keluarga Apel satu sama lain. Benang pink tersebut membuat, setidaknya, aku merasa ingin untuk mengenal dan mengetahui cerita dari masing-masing anggota Keluarga Apel. I think I’m gonna tell you some of them.

  • Mbak Vike, mbak yang udah menjadi anggota dari 2 Keluarga Apel (Bekasi & Tangerang). When she told her story, I thought that she has the not-exactly same story with my mother. And it’s really nice to hear some moving story from an “ordinary” people.
  • Kak Mega, Kak Sisca, Kak Yuni, dan dua teman cowoknya yang belum sempet kenalan. First people I talked to when I sit in Bangi Kopitiam. Kakak-kakak dari Padang ini sedang menjalankan magang di Jakarta dan menyempatkan diri untuk datang ke BSD untuk sharing bersama anggota Keluarga Apel lainnya. Katanya sih bisa diajak kerja sama kalo soal cewek. Semoga aja bisa jadi referensi di masa yang akan datang.
  • Kak Ida, kakak senior Komunikasi UI angkatan 1996! Tiba-tiba dicolek dari belakang oleh kakak kelas yang beda 16 tahun itu merupakan pengalaman yang mungkin jadi pengalaman sekali seumur hidup. Kakak yang seangkatan sama Rossa ini tinggal di Kencana Loka dan menyempatkan diri untuk datang untuk bertemu tim dan keluarga yang hebat. Semoga momen ini bisa menjadi satu titik balik dari perjalanan hidupku di Komunikasi UI.
  • Tim 9 Summers 10 Autumns The Movie: Kak Satya, Mas Edwin, Mbak Dewi Irawan, Mbak Hayria, dan mas-mbak lain yang terlihat bersemangat dan “sibuk” pas gathering Keluarga Apel Tangerang. Tanpa mereka, momen spesial ini gak bakal hadir dan aku gak bakal tergerak untuk menulis post ini. Thanks very much mas dan mbak yang selalu semangat ^_^.

Rasa terima kasih yang paling besar, banyak, dan spesial kuucapkan untuk orang yang telah menyebabkan semua ini terjadi: Kak Iwan Setyawan. Tanpa dirinya dan 9 Summers 10 Autumnsnya, tentu tidak akan ada film dengan judul yang sama. Tidak akan ada sesi sharing dan empowering yang terjadi di kopitiam itu. Tidak akan ada pertemuan antara aku dengan kakak-kakak dari Padang, atau dengan Kak Hayria, Mbak Dewi Irawan, dan Mas Edwin. Without you, there won’t be any wonderful meeting like this. So, from the deepest part of my “heart”, I’d like to say, thank you so much Kak Iwan.

"Tembus batas ketakutan"
“Tembus batas ketakutan”

Last but not least…
Sebuah pertemuan yang ajaib belum mencapai tahap yang sangat ajaib apabila pertemuan tersebut belum menghasilkan kebaikan bagi orang-orang yang mengikuti pertemuan tersebut. Seperti yang Kak Iwan harapkan, semoga pertemuan yang telah terjadi itu merupakan suatu titik di mana perjuangan kita dalam menghargai dan menaklukkan hidup dimulai. Aku cuma bisa berharap bahwa setiap anggota Keluarga Apel yang istimewa bisa berhasil dalam perjuangan di hidupnya masing-masing.

Me and my favourite team's jersey in #KeluargaApelTGR
Me and my favourite team’s jersey in #KeluargaApelTGR

Berlayar terus berlayar. Mari kita tembus batas ketakutan.

Cheers! 🙂

When The Midsummer Station Came to Jakarta…

“Dear Indonesia, thank you for the beautiful show! I’ve waited years to play in Jakarta and the dream finally came true. See you next year.”

Some Hoot Owls must be really happy when Adam tweeted this a year ago. Dalam keadaan euforia konser All Things Bright and Bautiful di Tennis Indoor Senayan 28 OKtober 2011, kalimat terakhir memberikan Hoot Owls kesenangan extra karena Adam akan kembali menjumpai mereka tahun depan.

But, is it a promise or just an empty hope?

Eventually, Adam fulfilled his promise to Indonesian Hoot Owls.

Sekitar bulan Juni-Juli 2012, Adrie Subono dan JAVA Musikindo mengumumkan bahwa OWl City akan kembali ke Jakarta dalam rangkaian The Midsummer Station World Tour. Dengan venue yang sama dan harga tiket yang sedikit lebih tinggi dari tahun lalu, me and my girlfriend are really excited to attend the concert. Berharap bahwa konser tahun ini akan menjadi sesuatu yang lebih “bright and beautiful” daripada tahun lalu.

That was my (and maybe most of the audience’s) worst fault for this concert: Expectation.

From the art class that I attended, I learned that expectation can be something that avoid us to appreciate and enjoy art performances. Dalam kasus Owl City ini aku berharap bahwa konser tahun ini akan sama seperti konser tahun lalu. Yaa setidaknya mirip-mirip dikit lah; Adam banyak ngobrol sama penonton, ada permainan “gesek-gesek” dari Owl City, ada banyak riff dan improvisasi dari lagu-lagu OC.

Namun ketika semua harapan tersebut tidak terwujud… Biasanya sih udah kurang bisa menikmati konser dengan sepenuh hati dan konsentrasi. Biasanya sih lebih nyari-nyari kekurangan dan kesalahan konser itu dengan referensi konser yang udah pernah dilaksanakan sebelumnya. Biasanya sih. Yaa setidaknya itu yang terjadi tanggal 14 November lalu kepada salah seorang penonton yang datang dengan perban coklat di tangan kanannya.

Anyway, let’s follow my adventure to the 2nd concert of Owl City in Jakarta…

Hujan. Satu hal yang mengiringi perjalanan kami saat dua kali nonton konser Owl City. Pamulang hujan deras, Vila Dago dan Gria Jakarta “tergenang”. Sempet cemas kalo jalanan ke Senayan bakal macet banget dan telat nonton konser.

Tapi pas sampe Senayan… kering kerontang. Gak ada tanda-tanda udah ada ujan sebelumnya. Jalanan kering, atap-atap kering, kanopi-kanopi, daun-daun, baju tukang koran di bunderan senayan, baju seragam satpam Plaza Senayan… semua kering. Agak heran dan cemas. Heran kenapa perbedaan cuaca bisa kontras gitu; cemas kalo nanti ujan pas perjalanan ke venue konser.

Dari tempat penukaran tiket JakartaConcerts.com di Plaza Senayan, kami langsung jalan ke Plaza Senayan ditemani 3 scoop es krim dan 2 sendok Baskin and Robbins. Jalannya gak begitu kerasa karena ternyata Plaza Senayan-Tennis Indoor itu sangat dekat, hanya sekitar 700 meter. Jadi (sepertinya) gak sampe 5 menit, kita udah bisa ngeliat calo-calo tiket dan penjual merchandise di sekitar tempat parkir Tennis Indoor. Ah I miss them…

Gak seperti konser tahun lalu yang ‘sedikit’ diwarnai oleh hujan, konser kali ini tidak ditemani oleh hujan. Jadi antrian di depan pintu masuk arena konser udah berubah jadi ular naga pas kami masuk jam setengah 6an. Sempet khawatir gak bakal dapet tempat yang enak, apalagi antrian untuk tempat festival itu lebih panjang daripada yang tribun. Tapi berspekulasi dan berharap aja bakal dapet tempat yang enak karena arena untuk festival itu luas dan bisa nampung banyak orang. Well, this time my prediction is right. Walaupun udah dapet posisi di belakang pas ngantri, tetep ajar dapet agar depan, walaupun agak ke samping. Tapi yaa lumayan lah, masih dapet pemandangan panggung yang lebih jelas daripada di tribun.

Waiting.. Waiting.. Waiting.. Waiting without something to do is something that I really hate. Talk with me girl, thinking, looking for (and finding) some friends, looking at cool music equipments on the stage… I do almost everything until the clock in my cellphone showed me four numbers: 2,0,1,and 5. Warnings was announced and we exactly know that the concert is about to begin. so we stand up together and calling the main performer’s name, “Adam! Adam! Adam! Adam!”

Nama tersebut berubah menjadi sebuah battle cry ketika musik intro mulai dimainkan. Tak lama, Adam pun keluar memakai jeans dan striped t-shirt. Meraih mic, ia langsung menyanyikan Dreams and Disasters. Sebuah perilaku konformitas pun terjadi di antara para penonton yang ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan oleh Owl City di atas panggung. Selanjutnya, Owl City terus membawakan lagu yang berasal dari 4 album yang berbeda; Maybe I’m Dreaming, Ocean Eyes, All Things Bright and Beautiful, dan The Midsummer Station. Konser pun dihentikan setelah lagu Take It All Away dan dilanjutkan dengan encore. Good Time (of course it’s without CRJ) dan Gold menutup konser dengan baik dan ramai.

And the concert was wrapped with a bow…
Courtesy: @MicahJohnDavies

Salah satu hal yang disayangkan (at least it was me) adalah pembawaan lagu-lagu seperti perjalanan di jalan tol Cipularang; panjang, tidak putus kecuali oleh encore, sedikit waktu istirahat setelah capek jingkrak-jingkrak. Gak seperti tahun lalu, Adam lebih sedikit berkomunikasi dengan audiens. Sekalinya ngobrol, cuma 1-2 kalimat, langsung main lagu lagi. Itu yang sangat disayangkan dari konser ini. Riff dan improvisasi untuk opening, ending, atau interlude lagu juga makin sedikit. Padahal itu tujuan utama aku nonton konser ini; untuk nyari yang beda dengan yang di rekaman yang biasa diputar sehari-hari.

Satu hal lagi yang agak mengganggu adalah tingkah gitarisnya, Jasper Nephew. On some songs, his facial expressions showed that his guitar is not working so well. He like played it but I didn’t hear any guitar sounds. Aku gak tau pendengaranku yang belum sensitif jadi belum bisa misahin bunyi antar alat musik atau memang ada problem untuk gitarnya Jasper. Tapi ekspresi mukanya mengalihkan hatiku dari kondisi “menikmati konser” jadi “investigasi peralatan”. And that’s really annoying, it make me can’t enjoy the concert.

Terlepas dari semua kekurangan yang ada, this Owl City concert is the best concert I ever watched in 2012. It’s the best because I just have watched a concert this year *smirk*. But really, Owl City can turn the empty large indoor tennis court in Senayan into a giant live-HD screen of midsummer station. I feel like I’m in the midsummer station of Adam Young; a safe place where we can retreat when things get crazy.

Me and My Angel
O my poor right hand…

P.S. I’d like say big thanks to JAVA Musikindo and Adrie Subono who brought this bright and beautiful band here; thanks to jakartaconcerts.com who have provided tickets for me and me girlfriend; thanks to everyone who have turn our Nov 14th into a good time. Special thanks to Owl City: Adam Young, Breanne Duren, Jasper Nephew, Daniel Jorgensen, and Steve Goold who have brought their Midsummer Station to Indonesia!