While Strolling Through the Park*

2016 tahunnya, Juli bulannya.
Juli yang tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin
Aku berjalan-jalan di sebuah taman
Taman olahraga, lebih tepatnya
Setelah menghadiri lulusan teman-teman

Jalannya jauh, kata sebagian orang
Tapi juga dekat, kata sebagian lainnya
Bukannya jauh dan dekat itu hanya masalah perspektif belaka
Layaknya dua insan yang jauh secara jarak
Tetapi selalu merasa dekat satu sama lain

Layaknya sang tikus bertelinga besar
Aku juga dikejutkan dalam jalan-jalan ketika itu
Bukan, bukan oleh sepasang mata
Tapi puluhan, bahkan ratusan pasang mata
Pasangan mata yang berjumpa denganku sepanjang perjalanan
Pasangan mata yang menyimpan ceritanya masing-masing
Yang pasti berbeda satu sama lain
Oh, cantiknya. Oh, indahnya

Aku, saat itu, rasanya ingin bernyanyi lirik yang mengiringi sang tikus bertelinga besar:
In a moment, my poor heart was stole away
Oleh senyuman dan tatapan hangat, atau sorot mata dingin mbak-mbak berpakaian formal
Oleh semua celotehan mas-mas di telepon dengan siapapun-teman-bicaranya-di-seberang-sana
Oleh keindahan gedung pencakar langit yang menjadi saksi bisu dari setiap kejadian di kota besar ini
Hatiku tidak sengaja tersandera oleh setiap kisah yang disimpan oleh masing-masing orang ini

Di dalam hatiku yang tertawan itu, muncul suara:
We shall never forget about what we see today
All those beauties, all those flaws, all those stories
Yang kita temui di taman ini
Yang lahir, hidup, dan mati oleh hangat dan diginnya kota Jakarta”
Yang kemudian diikuti oleh sebuah kerugian
Can we have this moment again, someday in the future?

Well, can we?


*Diambil dari judul lagu karangan Ed Haley yang memiliki judul asli “The Fountain in the Park“. Lagu ini dipublikasikan pertama kali antar tahun 1880 dan 1884. Banyak digunakan dalam beberapa film kartun, seperti The Nifty Nifties (1941) yang menampilkan Mickey Mouse (diambil dari Wikipedia)

Terpikir untuk segera menuangkannya ke dalam tulisan segera setelah selesai berjalan-jalan menembus ibukota dari kota satelit yang terdapat fenomena tiang listrik di tengah jalan itu. Kapan lagi bisa begini, pikirku, karena mungkin sebentar lagi, ada komitmen yang harus kulakukan: komitmen terhadap sebuah pihak yang menyebabkan diriku terikat kepada pekerjaan dan mendapatkan sedikit libur. Aamiiinn.

Ungkapan Hati untuk Bidadari yang Ada di Hadapan

Kata orang dulu, zaman sekarang ini zaman edan. Tapi, apakah benar sudah se-edan itu sampai kamu juga ikut-ikutan bergabung di kerumunan tak teratur di dalam kotak besi ini? Menurutku, kamu lebih baik berada di tempat perlindunganmu yang aman bernama kayangan itu.

Continue reading Ungkapan Hati untuk Bidadari yang Ada di Hadapan

Malam Itu

Malam itu rasi kalajengking merayap tepat di atas kepala aku dan kamu. Tidak, aku tidak takut. Aku tidak takut karena kamu tidak takut, dan keberanian itu tertular kepadaku. Aku dan kamu justru tertawa renyah penuh kebahagiaan.

Aku sebenarnya lelah selepas pekerjaanku. Tapi kamu memberiku energi yang mengusir jauh-jauh lelahku, mungkin sampai ke rasi bintang di langit sana. Berkatmu, aku kuat menengadah terus menerus, sibuk mengikuti telunjukmu yang mengarahkanku ke tiga titik terang di dekat bulan sabit yang tengah memudar.

“Itu Regulus,” kataku. “Dan yang lainnya… itu bintang apa ya?” Kamu melemparkan senyum manis yang selalu kusuka. Aku senang. Bukan, bukan karena tebakanku benar. Aku senang melihat senyum manismu itu.

“Indah ya?”, tanyamu. Seketika, aku menggeleng. “Kamu jauh lebih indah,” aku bilang. Pipimu bersemu kemerahan, lebih merah dari semangka. Aku suka.

Angin malam berhembus mempermainkan anak rambutmu. Dirimu terhempas di atas pasir, di samping laut lepas, bersamaku tentunya. Aku dan kamu terhipnotis oleh langit malam ini sambil terus sibuk membicarakan banyak hal. Tentang bintang yang menenangkan, tentang lagu yang menyenangkan, tentang masalah keluarga yang menyesakkan.

Malam itu, aku dan kamu berbagi banyak hal. Berbagi cerita juga berbagi teori. Teori tentang terbentuknya alam semesta dan teori tentang politik negara yang membingungkan. Tak terasa, mungkin kita juga berbagi sayang. Karena mereka selalu mengendap-endap masuk ke dalam hati setiap orang yang jatuh cinta. Seperti kita. Kita berdua.

Hingga akhirnya, bulan sabit meredup itu berjalan turun, lama-kelamaan menghilang dari pandangan. Tapi tak seperti kamu, yang semakin memenuhi pandanganku di malam yang semakin malam itu. Cinta kamu dan aku pun semakin meluap.

Aku memperhatikan kamu menatap bibirmu yang pandai menimbulkan rindu. Aku balas menatap bibirmu yang tak lelah meyiulkan sendu. Malam itu venus, jupiter, dan regulus mengintip syahdu, mengulum senyum. Melihat aku dan kamu bertukar rasa rindu dan sendu.

Pandora

Apakah kamu tahu cerita Kotak Pandora? Pandora, yang adalah istri dari Epimetheus yang adalah adik dari Prometheus, membuka kotak yang diberikan oleh Zeus yang berakibat kepada bebasnya segala macam bencana dan kesengsaraan kepada dunia. Pandora sengaja, tapi tidak tahu. Pandora hanya ingin tahu. Tapi berujung kepada bencana dan kesengsaraan.

Kali ini, aku adalah Pandora.

Kali ini, wadah penampung bencana itu adalah gawai. Gadget. Yah, pas sekali dengan konteks masa kekinian.

Aku sama seperti Pandora. Sengaja. Karena penasaran.

Padahal awal ceritanya sangat manis. Aku diliputi oleh aura kebahagiaan yang rasanya sangat manis saat itu. Janji bertemu dengannya untuk menghabiskan malam itu berdua seakan mengangkat setiap sudut bibirku setengah hari itu. Terlebih lagi ketika aku melihat sosoknya malam itu. Sangat manis. Sangat anggun. Macam Dewi Athena, istri sang dewa besar Zeus.

Lalu kulihat “hadiah dari Zeus itu”. Gawainya. Gawai sang Athena yang diletakkan begitu saja. Apa isinya? Aku tidak tahu. Aku yang merupakan seorang manusia biasa tidak punya kekuatan dan pengetahuan setara dewa.

Kuraih “hadiah Zeus” itu. Perlahan kulihat isinya.

“Kamu ngapain di HP aku?”
“Kamu ngobrol lagi sama dia? Kayanya manis banget ini ngobrolnya.”
“Eh? Cuma ngobrol biasa kok. Kan dia temenku. Kamu overprotektif banget sih.”
“Tapi ini manis banget… kamu ada apa-apa lagi sama dia ya?”
“Aku gak ada apa-apa sama dia. Sudah cukup. Kesalahan yang lalu ya yang lalu aja. Gak ada lagi sekarang.”
“Tapi ini… apa dong?”
“Pokoknya aku gak ada apa-apa lagi sama dia. Bebas kamu percaya atau nggak.”

Hari-hari indah bersama Athena berakhir saat itu. Sang dewi tidak berkata apa-apa lagi kepada satu-satunya manusia penganutnya ini. Begitu juga penganutnya; ia tak punya kekuatan apapun untuk kembali membuka pembicaraan dengan dewi kesayangannya. Kami terperangkap dalam kekecewaan dan kecurigaan masing-masing.

Lalu kuingat sebuah pepatah: “Curiosity killed the cat“. Yah, aku bukan manusia penganut dewa kali ini. Aku adalah kucing yang mati sia-sia karena rasa penasaranku yang menggelitik ini.

Sekarang, aku hanya bisa mencari harapan yang terletak di dasar “hadiah zeus”, seperti yang disebutkan di dalam cerita. Harapan apapun yang dapat memperbaiki musibah yang menerpa diriku dan Athena.

Itupun kalau ada.

Aku harap harapan itu ada.