I Met My Ex-Girlfriend On A Jazz Festival, And It Was….

Dahulu kala, ketika baru mulai berkecimpung di situs blogging WordPress, ada suatu tips untuk membuat judul yang menarik dan tidak biasa. Tentunya, tujuannya untuk menarik perhatian pengunjung blog supaya mereka membacanya.

Voilà! Judul post ini adalah pengejawantahan tips-tips menulis judul dari WordPress tersebut!

But, since I have been studying and akan bekerja di bidang pekerjaan yang mengutamakan fakta, I can assure you that the title is 100% true. Yes, I met my ex-girlfriend on a jazz festival.

Specifically, on 39th Jazz Goes to Campus (JGTC) in Faculty of Economy and Business campus, University of Indonesia (or just Universitas Indonesia, as my partner always says). Lebih detail lagi, pada tanggal 27 November 2016.

Pertemuan tersebut adalah pertemuan pertama setelah pertemuan terakhir beberapa bulan lalu. Beberapa bulan itu benar-benar beberapa bulan; like 6-7 months ago. Yes, memang sudah lama tidak bersua, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Except for some occasions, like birthday, graduation, asking for help… Wow. Just wow.

Pertemuan hari itu terjadi di depan ticket box JGTC yang lumayan dipenuhi oleh orang-orang. Entah mereka ingin menikmati “kekacauan yang rapi” dalam musik jazz; atau penampilan artis non-jazz yang masuk ke lineup; atau sekedar check in di event “ter-asoy” di FEB UI bulan November ini. Kita tak perlu mengurusi mereka, kan?

Wajah lama itu muncul di hadapanku yang sontak menimbulkan reaksi-reaksi fisika serta kimia di dalam tubuh. Entah apa yang terjadi, tapi aku yakin ada reaksi di dalam tubuhku yang besar ini.

Reaksi-reaksi tersebut tetap bertahan hampir sepanjang hari, di setiap kegiatan yang kulakukan di event besar jazz tersebut. Ketika memanggul tripod dan kamera yang beratnya masih lebih ringan daripada sekantung semen (oh yeah, I should tell you that I was “working” during the event, bukan datang sebagai penonton yang sepenuhnya menikmati pertunjukan), ketika menonton pertunjukan di panggung kecil yang nama grup penampilnya (kalau aku tidak salah) adalah Trisouls

Sedikit tentang Trisouls: penampilan mereka lumayan memikat hatiku, terutama sang pemukul “gendang” yang memukul gendangnya sepenuh hati. Aku jadi teringat cerita kakak-kakak relawan Bina Antarbudaya di mana ada orang yang bermain musik sepenuh hati dalam penampilan di malam perpisahan walaupun ia sebenarnya tidak beigtu terlihat oleh penonton. Such wow.

Begitu juga saat penampilan Monita Tahalea: reaksinya masih terasa. Mungkin reaksi hasil ketemu mantan kekasih ini bercampur dengan kekagetanku melihat seorang Gerald Situmorang mengiringi Monita di atas panggung. Like… Wow, really? This guy? Wow! Aku kurang fokus dengan penampilan mereka karena aku fokus dengan layar kameraku, tetapi kuyakin penampilan mereka memikat hati para penonton.

02-monita-dan-gesit
Oh wow. Siapa itu di sebelah kanan Monita yang memegang gitar? Oh! Ternyata Gerald Situmorang alias Gesit. Much wow.

Reaksi kimia dan fisika yang tercipta dari “pertemuan kembali” dengan mantan kekasih tersebut masih terus mengiringi ketika aku menyambangi beberapa panggung untuk menonton serta mengambil gambar beberapa penampil: Kgomotso Xolisa Mamaila dari Afrika Selatan yang membagikan semangat goyang Afrikanya kepada penonton yang sayangnya kurang merespon baik;

03-kgomotso
Penampilan Kgomotso Xolisa Mamaila dari Afrika Selatan dengan energi dan keceriaan khas benua Afrika

Raisa yang parasnya layaknya seorang bidadari yang diintip Jaka Tarub dan menjadi penampil yang menyedot penonton yang jumlahnya tentunya lebih dari siswa SD Muhammadiyah Belitung di cerita Laskar Pelangi;

serta tamu internasional kebanggaan JGTC ke-39 yaitu Daniel Powter. Sayangnya, aku dan sebagian besar  penonton saat itu hanya mengenal satu lagu dari Powter, sehingga tidak bisa berkontribusi banyak pada “penampilan spesialnya” malam itu. Hal ini terkandung dalam curhatan sang mantan kekasih setelah acara. Wait… curhatan? Oh wow, terlalu banyak informasi yang keluar ya…

05a-powter
Poor Daniel. Pardon us for not knowing some of your songs. But still, your performance is superb!

Tapi, sebagian besar penonton (termasuk aku dan mantan kekasihku) setuju bahwa orgasme telinga (yang orang-orang biasa sebut dengan “eargasm”) timbul pada penampilan Barasuara. Kumpulan orang gila ini nekat melangkahkan kakinya ke ranah jazz dan bermain bersama Indra Lesmana serta Adra Karim. “Untuk menambah suara dan sensasi electone,” kata mereka dalam konferensi pers yang kuhadiri malam itu.

Dan benar saja. Sensasi penampilan langsung Barasuara yang biasanya meninggalkan senyum dari telinga ke telinga di wajah penontonnya menjadi semakin mantap ketika dipadukan dengan permainan jemari Indra dan Adra di atas electone dan keytar mereka. Satu kata “anjeng” yang hampir selalu dilontarkan setiap mulut yang ikut menonton dalam pertunjukan terakhir di panggung bernama Pucuk Harum sekiranya dapat menggambarkan kenikmatan yang timbul dari penampilan kolaborasi tersebut. Atau seperti yang kubilang dalam salah satu post media sosialku: “Klimaks!”

06a-barasuara
Barasuara bersama Adra Karim (kiri)
06b-barasuara
Iga dan “permaisuri-permaisurinya” yang dapat menyalurkan energi positif kepada para Penunggang Badai

In the end, semua hal yang berjalan hari itu berakhir dengan lebih bahagia daripada yang dibayangkan. Event jazz berjalan lancar (sepertinya, sepengamatanku sebagai orang luar)…

liputanku berjalan lancar pula (dengan indikator lancar adalah berhasil mengumpulkan gambar yang sekiranya dibutuhkan) walaupun rasanya belum se-maksimal liputan-liputan sebelumnya. Konsekuensinya adalah rasa pegal yang terasa di beberapa organ dan persendian…

08-liputan
The hard working team for TV UI @ 39th Jazz Goes To Campus!
(Thanks to temennya Mika [tengah] atas foto kecenya menggunakan lensa tele)
Oh ya! Soal kegalauan yang tetiba muncul karena “pertemuan” kembali dengan sang mantan kekasih. Oh yah, ada kegalauan yang sempat muncul. Galau, resah, atau apapun itu namanya. Tapi yah namanya juga orang yang kurang peka, I can’t quite translate what were those feelings: apakah itu galau karena melihat seseorang dari masa lalu yang tetiba muncul di depan hadapan atau senang karena bertemu dengan seseorang dari masa lalu. But in the end, it all ended… nice.

So, I met my ex-girlfriend on a jazz festival, and it was pleasing.


Ketika seorang oportunis seperti saya mencoba memanfaatkan tugas liputan sebagai kesempatan untuk berliburan ke festival jazz, lahirlah tulisan ini. Sayangnya, aku lupa kalau datang sebagai media akan memiliki hak dan kewajiban yang berbeda pula. Mungkin tanda pengenal media bisa membawamu lebih dekat dengan artis yang tampil di panggung (literally sangat dekat, sekitar 10 cm); hak spesial itu juga memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas mengumpulkan gambar selama di acara. Tapi secara keseluruhan, aku menikmati pompaan hormon adrenalin yang sudah lama tidak kurasakan dengan berada di lapangan sambil membawa peralatan-peralatan yang lebih berat dari setir mobil yang belum dilengkapi power steering. Semua keringat, pegal, haus, dan lapar terbayar dengan kumpulan gambar-gambar yang (sebenarnya belum tentu) ciamik.

So, I should thank TV UI for the opportunity. Saya tahu bahwa saya bukan kru yang baik terkait dengan kehadiran lahir batin terutama. Jadi, terima kasih atas kepercayaannya dengan memberikan kesempatan untuk turun kembali ke lapangan.

Aku juga seharusnya berterima kasih kepada seluruh pihak yang ada di belakang maupun depan layar JGTC ke-39: panitia-panitia yang terlihat mencurahkan segenap jiwa raga sampai ada yang tepar di ruang panitia serta penampil-penampil yang ciamik dan memiliki keunikannya masing-masing. Special thanks for Barasuara yang telah membantuku memberikan keberanian serta tenaga untuk menyalakan api dan lentera supaya bisa lepas dari belenggu. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu.

And… should I give my thanks to my ex-girlfriend, who I met accidentally and kinda stirred up my day and also inspired me to write this piece? Maybe yes. So, thank you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s