Kisah Kasih Bulan Mei: Pesta yang Usai dan Hadiah yang Tertinggal

usai v bubar; berakhir; selesai; habis; sudah lampau

Tersebutlah ada sebuah pesta. Bukan pesta sungguhan karena terjadi dalam sebuah ruang imajiner yang tidak memiliki sekat berupa dinding nyata. Tapi itu pesta. Setidaknya berdasarkan aku dan dia.

Pestanya tidak besar karena tidak banyak orang yang menyempatkan waktunya untuk datang. Lagipula kita memang tidak mengundang banyak orang ke pesta itu kan? Tetapi, pestanya tidak kecil pula karena kita selalu merasa pesta itu cukup besar untuk kita berdua. Setidaknya pestanya cukup besar sampai kita bisa meletakkan semua sayang yang kita berikan kepada satu sama lain selama pestanya berlangsung.

Tidak terasa, pestanya berjalan sangat lama. Sempat berhenti sih untuk beberapa saat karena ada tangan-tangan jahil yang mengganggu pelaksanaan pesta kita. Tapi pesta kembali dilanjutkan setelah tangan jahil itu pergi dari pesta kita. Dan pesta kita dilanjutkan sampai waktu yang tidak ditentukan.

Memang tidak ditentukan, tapi sepertinya pesta ini sudah mendekati akhirnya. Oh, salah. Pestanya sudah berakhir, sekarang.

Setidaknya, kamu sempat berkata kepadaku kenapa kita mengakhiri pesta ini. Lelah berpesta, katamu saat itu, kalau aku tidak salah ingat. Aku butuh hidup yang lain dari pesta ini. Yang bisa jadi lebih dari pesta ini. Juga aku mau berkembang layaknya bunga mawar yang pernah kamu berikan kepadaku di malam minggu itu.

Jika otakku tidak salah mengarahkan perasaanku, itu kata-kata yang kamu berikan kepadaku di penghujung pesta kita. Sebelum kamu membuka pintu dan berlari menuju tanah di luar sana yang bahkan tak sanggup kubayangkan seperti apa bentuknya.

Terus sekarang apa?

Coba kita lihat ke tengah ruang pesta di mana pestanya telah usai dan kamu bisa menemukan diriku yang ternganga di sana. Terkejut dengan apa yang kau katakan sebelumnya kepadaku. Membatu, begitu orang-orang sastra menyebutnya.

Berantakan. Hancur. Menyedihkan.

Tiga kata yang sesuai dengan kondisi ruang pesta saat itu. Dan juga kondisi otak dan perasaanku saat itu. Oh! Tidak hanya saat itu, malah sampai sekarang.

Aku bahkan tidak sempat untuk menyerahkan kado spesial yang telah kusiapkan untukmu. Memang, kadonya harusnya disampaikan lebih cepat. Tapi, sepertinya sudah terasa sejak jauh hari bahwa kamu sudah ingin meninggalkan pesta ini lebih cepat. Itu bisa kurasakan lho. Jadi, apa pentingnya hadiah ini buatmu, pikirku saat itu.

Tapi, sejak kecil, ibuku selalu berpesan kepadaku untuk menepati setiap janji yang telah dibuat. Jadi, kado ini masih kusimpan untukmu karena aku telah berjanji, walau hanya kepada diriku sendiri, bahwa aku akan menyerahkan ini kepadamu suatu hari nanti.

Tapi kamu sudah pergi meninggalkanku di ambang kehancuran ini. Jadi bagaimana sekarang?

Biarlah lemariku mengorbankan ruang kosongnya supaya aku bisa meninggalkan hadiah ini kepadamu di suatu hari nanti. Mungkin kita bisa bertemu pada hari ulang tahunku nanti dan bertukar kado. Atau cukup aku yang memberikan kado saja kepadamu, seperti yang biasa kulakukan di dalam pesta kita.

Jadi, bagaimana sekarang?

Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan sekarang. Apakah kamu masih berjalan-jalan tanpa arah, atau sedang menekuni jalan tertentu? Atau malah kamu sedang berpesta dengan teman pesta yang lain? Dia yang kamu rindukan dan kamu idamkan untuk berpesta bersamanya? Aku tidak tahu.

Dan jujur saja, aku mulai tidak peduli.

Mulai. Belum sepenuhnya tidak peduli.

Jadi, sekarang, aku memberanikan diri untuk melangkahkan hati ke pintu itu untuk mengikuti panggilan teman-temanku untuk berpesta di ruang lain dulu. Berpesta untuk kembali membangun diri dan hati, seperti yang telah aku lakukan sepanjang setahun ini.

Ruang pesta ini aku kunci. Tapi kamu pasti tahu di mana kamu bisa menemukan kuncinya, seandainya kamu ingin kembali sewaktu-waktu. Kamu juga pasti tahu di mana kamu bisa menemukan aku, seandainya kamu membutuhkan sesuatu dariku (yang aku sangat ragukan karena kamu mungkin sedang asik dengan pesta lainnya juga).

Untuk sekarang, aku cuma bisa meninggalkan tulisan ini di pintu. Tulisan yang berisi harapan dan keluhan dari si anak kecil yang terdapat di dalam diriku:

“It’ll be hard, but life moves fast-we’ll see each other again. I know that. I can feel that. Just like I can feel how much you care for me and how much I love you”

-Nicholas Spark


Tulisan ini seharusnya dipublikasikan tanggal 10 Mei 2016. Namun, karena kekalahanku dalam pertempuran melalui kantuk, baru bisa dipublikasikan pada tanggal 11 Mei 2016.

Ini adalah pandangan dan perasaan subjektif yang kurasakan terhadap suatu peristiwa patah hati yang terpaksa harus kualami untuk kedua kalinya dengan orang yang sama. Kesalahan sama dengan orang yang sama… sounds like a donkey, eh?

Ini bisa jadi menjadi tulisan selamat tinggal untuk dia yang telah keluar dari pesta yang kuceritakan di atas. Atau tidak. Entahlah, hanya Tuhan yang punya jawabannya dan Dia masih menyimpannya rapat-rapat dari kita berdua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s