Jatuh Cinta Dalam Wadah Seni

I’ve been not good these days. Broken-hearted, overwhelmed, trapped in the middle of things I don’t fond of. Gelap, kelam, suram, galau: kata-kata yang cocok dengan hari-hariku beberapa bulan ini. But at some point, there will be silver lining, just like what Bradley Cooper believes in Silver Linings Playbook. And yes, I have met my silver lining.


Semua kesuraman dalam hidup bisa disembuhkan, salah satunya, dengan menggunakan seni. Atau musik. Atau cinta. Walaupun mungkin perasaan hangat yang muncul untuk mengobatinya hanyalah sedikit kesadaran palsu yang bisa saja hilang dalam waktu singkat, setidaknya perasaan itu bisa menyelamatkan kita sebelum jatuh ke dalam lubang yang lebih dalam.

Dalam kasusku, sebuah wadah ekspresi seni bernama CommArtFest 2016 menyelamatkanku sebelum jatuh ke dalam lubang tanpa bisa keluar lagi.

Datang sebagai tim liputan televisi komunitas kampus tempatku bernaung, aku mengemban tugas untuk mengumpulkan bahan guna dijahit menjadi satu paket berita yang dapat ditayangkan guna memberikan informasi kepada khalayak televisinya. Tak disangka, selain paket berita, aku juga mendapatkan sentuhan kasih dari acara ini. Sentuhan kasih yang menyebabkanku jatuh cinta tidak hanya sekali, tetapi (minimal) dua kali dalam satu malam.

***

Jatuh cinta pertamaku malam itu adalah kepada sekumpulan pemuda-pemudi dari Tanah Parahyangan yang baru pertama kali kutemui di CommArtFest 2016 ini.

commartfest04
Littlelute @ CommArtFest 2016

Band Littlelute naik ke atas panggung membawa mandolin, biola, perkusi, ukulele (tidak hanya satu, tetapi dua. atau lebih, aku lupa persisnya), dan juga keceriaan yang menghangatkan. Tidak ada sendu, tidak ada ragu, tidak ada galau; penampilan Littlelute yang jenaka dengan berbagai interaksi di atas panggung seperti sedang menyebarkan keceriaan di dalam ruangan malam itu.

Aku percaya bahwa ada namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan malam itu, aku jatuh cinta kepada Mbak Dhea Febrina, penyanyi dari grup Littlelute.

Gaun santai (aku bahkan tidak tahu apakah itu bisa disebut gaun atau tidak), rambut pendek, topi bowler hitam serta kata-kata dan nada-nada yang dinyanyikan Mbak Dhea seakan menunjukkan bahwa dunia ini masih punya sisi-sisi tertentu yang sangat cantik, manis, dan lucu; seperti Mbak Dhea. Jadi tak pantaslah apabila seseorang terus bersedih ketika mereka masih ada di dunia di mana terdapat Sate Maranggi yang enak sekali.
(Tulisannya sudah mulai berubah menjadi suatu pemujaan berlebihan terhadap seorang Mbak Dhea, maka mari kita hentikan perbincangan tentang Littlelute. Lanjut saja kita menikmati Sate Maranggi! :D)

Untuk Mbak Dhea, jika dirimu membaca tulisan ini, semangat menjalani skripsinya! Diriku juga sama-sama masih berkutat dengan skripsi 😀

***

Jatuh cinta keduaku malam itu sebenarnya bukan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Aku sudah pernah jatuh cinta kepada sekelompok orang yang melantunkan lagu dengan gitarnya; bercerita tentang gadis dari Irlandia serta tentang derau dan kesalahan dan penat.

commartfest03
Trees and Wild @ CommArtFest 2016

The Trees and The Wild, yang sekarang telah bermetamorfosis menjadi Trees and Wild, kembali hadir di hadapanku malam itu setelah pertemuan pertama kami pada tahun 2010 lalu. Hati kecil dalam tubuh besar ini terus merindukan kehadiran kelompok ini, baik dalam bentuk fisik maupun kepingan cakram yang sangat sulit untuk didapatkan, sejak lama.

Namun, layaknya seorang mantan pacar yang sudah lama tidak bertemu lalu kemudian bertemu lagi secara sengaja, kita tidak akan bertemu dengan sosok lama yang kita puja itu. Trees and Wild rupanya bermetamorfosis lebih dari sekedar perubahan nama, tetapi juga musiknya. Aku tidak menemukan gadis Irlandia malam itu, padahal lagu itu yang paling kutunggu sejak aku menyanggupi mengambil tugas liputan ini dari produser program berita televisi komunitas.

Malah, aku bertemu dengan Trees and Wild yang terkesan gelap dan trippy. Sepertinya aku melewatkan satu fase dalam kehidupan mereka. Trees and Wild yang sekarang membawaku ke dalam perjalanan ke dimensi yang tidak kumengerti sama sekali.

Tapi biarlah, hatiku masih merindukan dan mencintai mereka, sehingga ia membiarkanku larut ke dalam perjalanan ke dunia lain melalui lagu-lagu mereka. Aku tersentuh menonton penampilan mereka malam itu, terutama penampilan Kak Hertri Nur Pamungkas, sang penabuh drum, yang sangat total. Aksi kacamata jatuh dan gebukan yang terlihat berisi segenap semangat dan jiwa itu hampir membuat diriku tidak tega berteriak kepada kalian, “Mana lagu lama kalian?!” atau “Aku kangen kalian, tapi kalian yang lama”.

Toh, kalian tetap ciamik dan bisa memikat hatiku, sehingga cintaku kepada kalian tidak berubah. Lagipula, aku tidak mau menjadi seperti “orang-orang-di-tengah-kota-itu” yang sedang menolak perubahan dan inovasi yang tak terhindarkan dalam kehidupan ini (refers to March 22nd event).

Untuk kakak penabuh drum, Hertri Nur Pamungkas, terima kasih telah mempertunjukkan permainan drum dengan segenap jiwa dan raga, sampai kacamatamu terlempar berkali-kali.

***

Tentu, tidak hanya dua hal itu saja yang kucinta dan membuatku jatuh cinta malam itu. Segala kegiatan yang kujalani, instalasi seni yang diciptakan oleh orang yang tak terduga, bertemu orang-orang lama yang sudah lama tidak ditemui, pekerjaan sambil membimbing orang baru yang sangat menakutkanku, segala ketakutan dan kecemasan terkait hal terindah yang paling kusayangi sekarang ini…

Patah hati sekali (atau mungkin ini yang kedua kali) memang membuat sebongkah daging ini menjadi seseorang yang tidak merasakan kembali. Tetapi kehangatan dan keindahan yang dipancarkan oleh Mbak Dhea dan Littlelute, serta perjalanan menuju dunia antah berantah yang membuat kepala berputar yang dipandu oleh Trees and Wild, serta hal lainnya yang terjadi di dalam CommArtFest, kembali membuat bongkahan daging ini bisa kembali menjadi manusia. Mungkin belum sepenuhnya; tetapi sedikit demi sedikit.

Mungkin ini efek dari CommArtFest. Karena tempat itu adalah #WhereTheFreeSoulsAre, right?


Terima kasih untuk segenap kerja keras yang dilakukan oleh panitia acara CommArtFest 2016 yang telah menyajikan segenap penampilan ciamik nan menggelitik jiwa seni di dalam diri. Terima kasih untuk Littlelute yang telah menampilkan sisi lucu dari dunia ini sekali lagi. Terima kasih juga untuk Mbak Dhea yang telah hadir dengan sosok elegan dan mengingatkanku bahwa aku masih bisa jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Kepada “cinta lamaku” yang sekarang telah berganti nama, Trees and Wild, aku akan menemuimu jika kamu tampil lagi.

Terima kasih kepada Langit Rinesti yang mengizinkanku turun liputan di acara ini; dirimu membantuku bertemu “cinta lamaku” dan memberikan kesempatan supaya aku tidak terus melukai diri dengan alasan cinta lama. Terima kasih kepada Iyan Fitriyan yang menjadi partner liputanku malam itu; you’re good man, but you’ll be better.

So, have I moved on? (Un)fortunately, nah.
Aku hanya menemukan bahwa aku masih bisa mencinta dan jatuh cinta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s