Bunyi Dalam Diam

Sunyi. Sepi. Sendiri.

Waktu seakan mengalami sebuah dilatasi. Tujuh hari seakan satu bulan. Mungkin lebih. Tapi tetap saja lama.

Padahal hanya tujuh hari kau dan aku sepakat kalau kita akan menjalani hari tanpa satu sama lain. Diam seribu bahasa. Supaya waktu bisa membantu pikiran dan hati untuk me-redefinisi hal yang besar dalam hubungan kita: siapa kamu untukku dan siapa aku untukmu.

Tapi tampaknya redefinisi itu terjadi lebih cepat padaku.

***

Kamu tahu rasanya ketika rindu menyusupkan tangan-tangan jahilnya ke dalam setiap rongga di dalam kalbu? Kamu tahu rasanya ketika pikiranmu seperti salah satu ujung jarum dalam kompas: mengarah ke satu tujuan tidak peduli seberapa jauhnya?

Kali ini, Sang Rindu tidak lagi hanya menyusupkan tangan jahilnya. Ia sudah mencekikku tepat di leher; membuatku tidak bisa bernafas dan terus meronta untuk menggapai udara yang kuidamkan: kamu.

Tapi, apa boleh buat, aku tidak mungkin menjilat ludahku sendiri dengan mengirimkan pesan rinduku kepada dirimu yang mungkin sedang bergulat dengan perjuanganmu sendiri. Aku akan seperti pungguk merindukan bulan jika aku berharap kamu akan mengirimkan pesan kepadaku; meskipun itu bukan pesan rindumu kepadaku.

Sampai akhirnya aku menyalahkan Tuhan, kenapa Kau dera aku dengan derita kesendirian dan kerinduan ini? Mungkin Dia tidak segera menjawabku hanya karena Ia lebih suka jika aku mencari jawabannya sendiri (because God works in a mysterious way, right?). Tapi aku segera menyudahi komunikasiku dengan Tuhan saat itu karena aku tahu, jawabannya tidak akan sesuai dengan yang kuharapkan.

***

*PING!*

Gawai yang berada di pangkuanku segera mengeluarkan bunyi dan getar. Layaknya anak kekinian yang akrab dan lengket dengan gawainya, aku langsung membuka gawai hadiah dari orangtuaku itu.

1 New Post from Si-Dia-Yang-Hanya-Satu

Seketika, wajahmu muncul di layar kecil gawaiku. Memancarkan kehangatan, rasa manis yang tiada gantinya, serta rasa lega.

Bukan. Itu bukan pesan langsung darimu untukku. Itu hanya gambar terbarumu yang sengaja kau sebarkan untuk orang-orang yang berhubungan denganmu di media sosial itu.

Tapi buatku, foto wajahmu itu bagaikan tetes-tetes pertama teh manis di waktu berbuka puasa: melegakan, menyegarkan, mengharukan.

Rasa senang menggantikan Si Rindu yang telah lama mencekikku itu. Senang, karena aku bisa melihat wajahmu lagi. Senang, karena aku bisa mengetahui kalau kamu baik-baik saja.

Senang, karena akhirnya kita bisa terhubung lagi melalui sebuah ikatan semu yang lemah tapi menyenangkan.

Aku tak kuasa menahan dorongan jari-jariku untuk menekan tombol itu. Aku menyunggingkan senyum terbaikku yang biasanya kuhadiahkan kepada dirimu di setiap malam minggu…

*CKLIK!*
Uploading picture…. Uploaded!

***

Terima kasih untuk pesanmu yang sangat melegakanku, kesayangan. Semoga kamu bisa membaca pesan terselubungku ini sebagai surat cinta yang biasa kuberikan kepadamu di hari ulang tahunmu.

Semoga ikatan di antara kita akan kembali menguat seperti yang biasa kita sebutkan dalam doa dan tawa kita di malam hari.

 

 

 

Walaupun aku tahu ikatan itu sekarang serapuh selaput tipis yang menyelubungi bola matamu yang memancarkan keindahan tiada tara dan tiada henti.


Terinspirasi dari kisah nyata; perspektif satu pihak dalam satu hubungan manis yang melibatkan satu pasangan berbeda jenis yang telah mengambil komitmen untuk menghabiskan hari bersama, walaupun pada akhirnya bisa berpisah pula: entah di pelaminan atau di jalan yang berbeda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s