Waktu Pesta

There, I ask myself, where am I? Ain’t I in a party? With all of the foods, boozes, music, chatters…

Tapi kenapa sepi di sini?

Ya, aku memegang satu piring dengan satu potong kue keju dengan saus bluberi di tangan kiriku. Ada garpu kecil di sana. Warna biru. Warna kesukaanku. Dan kamu. Dan ya, aku memegang segelas teh lemon dingin di tangan kananku. Ini minuman kesukaanku, ketika di sekelilingku hanya ada minuman alkohol yang pasti akan kutolak apabila kalian menawariku.

Dari dua benda ini, dan segala kebisingan yang ada di sekitarku… Ya, aku ada di tengah pesta.

Tapi kenapa sepi di sini?

***

Kesepian itu tidak ada lima menit yang lalu. Di saat kita datang berdua ke rumah ini. Di saat kita disapa oleh tuan rumah yang adalah temanmu itu. Di saat kita memainkan skenario yang telah kita sepakati bersama. Atau mungkin hanya aku saja yang menyepakatinya. Atau malah kamu saja yang menyepakatinya. Pokoknya, kita berdua memakai topeng saat itu.

“Akhirnya! Pasangan terbaik sepanjang masa datang juga!”

Pasangan? If only you know the truth.

“Kalian memang tidak bisa dipisahkan ya!”

Siapa bilang?

“Ayo ayo, silakan masuk. Anggap saja rumah sendiri. Ambil saja makanan dan minumannya. Kalau kalian mau joget, joget saja ya. Kita senang-senang sekarang!”

Dan itu akhir dari perasaan bahagia di malam itu yang bisa jadi hanya topeng di muka kita berdua (setidaknya, bahagiaku atas dirimu bukan topeng). Sebelum akhirnya Sang Kesepian kembali datang menguasai ruang kecil yang kau tinggalkan di dalam otak dan kalbuku.

***

Sang Kesepian mendorongku untuk mengambil potongan kue kesukaanmu dan minuman kesukaanku. Ia pula yang mendorongku untuk duduk di dekat lemari. Di pojok. Tidak terlihat oleh siapapun, kuharap. Hanya duduk. Memandangi dirimu yang sedang tertawa bersama teman-temanmu.

Kau tertawa, seakan malam itu tidak pernah terjadi. Malam di mana aku memutuskan di mana kita tidak bisa bersama, karena kamu mengatakan kita mungkin tidak bisa bersama sekarang.

Dalam kesendirian, Sang Kesepian mengajakku berkelana di dalam lautan imajinasi dan harapan. Kami bergumul dalam sebuah diskusi yang mungkin tidak ada akhirnya. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah kuajukan kepada diriku sendiri sejak seminggu lalu.

“Apakah ini keputusan yang salah? Iya, ini keputusan yang salah, untuk sekarang.”
“Apakah aku seharusnya tidak meninggalkanmu? Tapi tidak, aku tidak pernah meninggalkanmu. Tidak sejengkalpun.”
“Apakah semua harapan dan hal manis dan baik sudah tidak ada lagi semenjak dirimu (atau aku?) pergi? Sepertinya begitu.”

(Ya, itu juga satu hal yang belum bisa kupahami dan kita sepakati. Siapa yang pergi meninggalkan siapa? Kamu? Aku? Kita berdua? Atau malah tidak ada yang pergi sama sekali?)

***

Dalam kegalauanku, kamu melangkahkan kaki ke arahku. Oh, kamu cantik sekali malam ini. Dan kecantikanmu kembali menorehkan goresan di kalbuku.

“Hey. Terima kasih ya sudah menemaniku ke sini.” Tiba-tiba, kamu memelukku. Singkat, tapi hangat. Setidaknya aku merasa hangat.

Seketika, Sang Kesepian hilang entah ke mana. Digantikan oleh kehangatan pelukan singkat itu.

Kemudian, aku berkata kepadamu:
“Sama-sama. Terima kasih juga ya sudah mengajak aku ke sini. Manis banget malem ini, terutama kamu.”

“Hehe iya.”

Kembali, dinginnya kamu mengembalikan Sang Kesepian ke tempat sebelumnya dia berada: di dalam hatiku.

Terima kasih atas waktu pestanya, kesayangan.
Tinggalkan aku bersama Sang Kesepian atau bawa aku pergi dari hadapannya. Aku harap kamu mengambil pilihan yang kedua.


*Judul “Waktu Pesta” terinspirasi dari judul buku karya Dodi Prananda. Terima kasih Kak Dodi atas inspirasinya, baik dalam fiksi maupun jurnalisme. Can’t say you’re the best, but you’re the good one. Thanks kak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s