Renungan Sebelum Liputan

Hidup ini sudah ada skenarionya. Sejak kita lahir, kita sekolah, sampai kita mati nanti sudah berdasarkan skenario yang dirancang oleh Sang Maha Perancang Skenario. Jadi tidak ada yang namanya kebetulan. Semua disusun-Nya dengan sangat rapi, memperhatikan keterkaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya. Mungkin skenario-Nya tidak selalu bahagia untuk sang aktor, tapi mengapa juga sebuah cerita harus berjalan bahagia selamanya?

Setidaknya, itu yang kupercayai hingga hari ini.

Mungkin kita (atau lebih tepatnya, saya) tidak tahu mengapa Dia merancang skenario yang seperti ini. Memberikan kita kesenangan dan kebahagiaan di satu waktu yang kemudian diiringi oleh cobaan dan kesulitan.

Saya tidak tahu, apa arti dari skenarionya. Terlebih saat ini.

Saat kabar gembira itu datang bahwa saya akan menjadi sangat dekat dengan mimpi saya, tentu saya gembira bukan main. Saya mendapat kesempatan untuk pergi ke tempat yang mungkin tidak ada dalam bayangan saya dapat dikunjungi dalam waktu dekat. Bahagia? Tentu saja. Terbayang bahwa jalan menuju dan di tempat itu akan menjadi sangat indah dan membahagiakan untuk semua orang.

Kenyataannya? Jauh dari harapan.

Persiapan keberangkatan menjadi hal yang paling melelahkan karena harus bertabrakan dengan hal-hal lain yang terdapat di rumah. Kesibukan utama sebagai mahasiswa, tanggubg jawab sebagai orang berjabatan di salah satu organisasi, persepsi orang bahwa aku meninggalkan tanggung jawab di rumah untuk bersenang-senang belaka; polisi tidur ini membuat jalan ke depan menjadi tidak mulus. Belum lagi konflik dan pertengkaran, besar dan kecil.

Alhasil? Kuberangkat dengan beban. Bukan beban barang bawaan, tetapi juga bebab khayalan yang sama-sama terasa berat di pundakku.

Namun, memang dasar Tuhan. Layaknya kotak pandora, Ia memberikan kilatan-kilatan harapan di tengah kumpulan kabut gelap tersebut. Dukungan terhadapku yang akan menjalani perjalanan jauh ini, harapan mereka supaya aku bisa berkembang lebih pesat; mereka bagaikan bintang dalam permainan Super Mario yang memberikanku kekuatan lebih untuk menjalani semuanya.

So, sekarang apa? Sekarang aku duduk di ketinggian yang tak terpikir bisa kucapai. Menunggu dengan cemas dan harap apa yang akan terjadi selanjutnya di skenario besar-Nya yang bahkan aktornya tidak tahu apa yang akan terjadi.

Tapi semua yang terjadi pasti memiliki makna. Jadi yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berusaha sangat keras, untuk melakukan yang terbaik, sebagai seorang aktor-Nya.

Kumohon doa dan dukungan. Ku akan segera menjalani kehidupan yang adalah Bukan Liburan, Tapi Liputan.

***

Ditulis dari sebuah tempat duduk mungil yang tidak optimal mengakomodasi tubuh yang lebar ini. Di ketinggian yang lebih tinggi daripada gunung tertinggi di dunia. Di dalam balutan selimut yang tidak lebih nyaman daripada selimut di rumah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s