Percakapan di Dalam Kepala

Aku lelah. Aku lelah melihat dia terus bekerja seperti ini. Dirinya yang selalu aktif akan menyiksa bagian yang lebih besar daripada dirinya secara perlahan… atau bahkan secara cepat. Aku tak mau semua berakhir secepat ini. Aku mengumpulkan keberanian dan menyusun kata-kata yang kemudian kulontarkan beberapa menit kemudian.

“Hey Ami! Sudahlah, kamu berhenti saja. Jangan bekerja terus. Nanti semua hancur.”

“Bus. Kamu tidak pernah mengerti ya? Ini saatnya. Ini adalah waktuku untuk terus bekerja. Aku sangat bertenaga, sayang kalau tenaga ini tidak kupakai untuk bekerja.”

“Kata mereka sih begitu. Tapi, sudahlah. Waktumu di sini sudah hampir usai. Saatnya aku yang tampil sekarang.”

“Nah! Karena waktuku sudah hampir usai, aku akan memaksimalkan kerjaku. Aku akan berbuat sangat banyak sebelum akhirnya kamu yang tampil di depan dan menguasai semua.”

“Tapi jangan sebanyak ini juga! Nanti semua hancur!”

“Tapi kan ini saat-saat terakhirku…”

“Tapi cukuplah…”

“Tapi…”

Hingga saat ini, perdebatan Amigdala dan Lobus Frontalis di dalam kepalaku tidak pernah usai. Hingga sekarang, ada perang kecil terjadi di dalam kepala besar ini; perang antara Emosi dan Rasio.

Benarkah itu perang yang mereka ciptakan?

Atau malah aku yang sengaja menciptakan dan memelihara perang itu?

Entahlah.


Merupakan kelanjutan dari khayalan saat berada di jalanan. Sedikit curhatan di kala tak bisa memejamkan mata di dalam gelap

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s