Pergi

Pukul 06.50 di atas sini, di sebuah wilayah udara negara di seberang lautan.

Pukul 05.50 di sebelah sana, di negara kepulauan yang selama ini menjadi tempat tinggal tubuh dan jiwaku.

Di atas sini, aku memutar sebuah lagu. Lagu yang tergolong lama. Dinyanyikan oleh seorang kreatif yang akrab dengan ukulelenya. Judulnya Asmara Nusantara.

Pikiranku hanyut ke dalam lagu. Kemudian…

…menetes titik air dari sudut mataku. Tak terasa. Sangat perlahan.

Setitik jiwa di dalam dada seakan meronta, “Aku cinta rumah. Aku kangen rumah.” Padahal, aku ingat beberapa minggu yang lalu, ia meronta ingin segera meninggalkan rumahnya yang dirasanya tak bisa diharapkan lagi.

Benar kata orang: kita tidak pernah tahu seberapa besar kita mencintai sesuatu sampai kita (atau mereka) pergi. Kadang untuk merasakannya, kita harus mengambil jarak untuk sementara, untuk kemudian tahu perasaan sebenarnya kita terhadap mereka.

Dan sekarang aku sedang dalam perantauan, pergi meninggalkan tanah tempat aku dilahirkan. Aku baru sadar betapa indahnya tanah tersebut. Aku baru sadar betapa aku mencintai rumah tersebut.

Awalnya aku berharap kepergian ini adalah “pergi untuk jadi jauh”; jauh dari segalanya yang selama ini dekat denganku. Supaya aku tidak terbebani lagi oleh mereka. Supaya aku bisa mencari harapan di belahan lain di Bumi.

Ternyata tidak begitu. Kepergian ini adalah “pergi untuk kembali.” Aku pergi untuk mengambil jarak sementara dari semua. Untuk mendapatkan perspektif baru dari hal lama. Untuk menemukan harapan yang selama ini ada, tapi tak terlihat karena tertutupi oleh makian yang kulontarkan kepada mereka.

Di sebuah sudut di dalam diriku, aku mencoba untuk berbicara kepada-Nya:

“Selama ini, kerjaanku hanya mengutuk dan memaki kepada semua hal di atas tanah kelahiran ini. Mungkin ini cara-Mu untuk menggamparku supaya aku sadar, tidak seharusnya aku memaki, walaupun kenyataan yang ada sangat menyakitiku. Aku berterima kasih kepada-Mu atas kesempatan ini. Kuharap Kau membantuku, mengembalikanku ke jalan yang seharusnya kutempuh setelah selama ini aku tersesat ke sebuah jalan yang mungkin seharusnya tidak kuambil.”


Teruntuk semua yang kucinta di seberang lautan sana.

Aku pamit untuk pergi. Tapi janganlah kau risau. Aku pergi, untuk kembali, seutuhnya dengan kalian di kemudian hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s