Hujan di Pagi Hari

Pagi ini, hujan turun kembali. Deras sekali; si ibu sampai tak jadi pergi, sepertinya.

Aku memberanikan diri bertanya kepada langit.
“Hey langit yang ada di atas sana. Kenapa dirimu menangis pagi ini?”

Langit berkata sambil terus menangis.
“Ini caraku berempati denganmu. Ini caranya agar kesedihan keluar dari hatimu.
Aku menangis untukmu, supaya kamu tidak perlu menangis di hadapan orang lain.”

Aku kebingungan mendengar jawaban itu.
“Tapi… aku sudah tidak sedih kok. Aku sudah lega sekarang.
Aku sudah rela, melepas dirinya kepada pelukan yang lain.
Dia sudah pergi sekarang. Aku tidak lagi sedih karenanya.”

Langit mengambil gitar dan mulai menyanyikan potongan lagu yang sudah kukenal.

You said you wasn’t sad to see her go
Yeah, but I know you were though.

Seketika, keheningan absolut menyelimuti diriku dan langit.


Ditulis ketika dada dipenuhi “kelegaan” dan “kebahagiaan”. Semu, tapi menghangatkan.
Kecuali kemenangan Sang Meriam di tanah Manchester semalam. Nyata. Dan kembali menghangatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s