Mimpi

…we don’t just dream during sleep, but also on some occasions in very relaxed waking states when we “drift off” and suddenly realize we have been dreaming… Second, a “dream” is something we “experience” because the thinking is very real and makes use of our senses — especially seeing and hearing; because usually we are the main actor; and because a dream is sometimes very emotional (but not always).

Taken from http://www2.ucsc.edu/dreams/FAQ/

Pagi ini, aku terbangun dari sebuah tidur yang tidak sadar telah kulakukan dari semalam. Layaknya sebuah barang elektronik yang telah melalui fase restart, ingatanku hanyalah berupa kilatan samar tentang apa yang terjadi sebelum tidur. Hanya itu, sebelum pada akhirnya ingatan-ingatan tersebut kembali membangun dirinya menjadi sesuatu yang utuh dan menjadi sebuah memori yang mengisi otakku.

Namun, sampai mereka terbangun utuh, ada satu hal yang menggantikannya mengisi otak: ingatan tentang mimpi.

Aku merasa sudah lama aku tidak bermimpi dalam tidur. Entah mengapa. Mungkin bisa jadi karena otakku tidak bekerja seperti biasanya dalam tidur-tidur terdahulu. Atau tidurku yang tidak memberikan lingkungan yang kondusif kepada mimpi-mimpi tersebut untuk muncul. Entahlah.

Tapi aku masih ingat. Aku melakukan hal menyenangkan dalam mimpi itu: menulis artikel review untuk sebuah harian yang sampai sekarang masih kupercaya. Ada perasaan positif saat menulisnya, bahwa tulisan itu akan segera disukai oleh redaktur. Aku senang. Sangat senang…

…sampai aku bangun. Tapi perasaan senang itu masih tersisa dalam setitik jiwa di dalam dada yang mungkin telah mati.


Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena perasaan senang dan lega dari mimpi, hilang kesedihan dan kegalauan yang terus memenuhi sebuah ruang jiwa selama beberapa hari ini.

Serusak apapun cairan susu tersebut, pada akhirnya, dia masih mengingat siapa dirinya sebelum menjadi sebuah campuran. Sejatinya, dia bukanlah cairan susu-nila (aku tidak tahu apakah ada istilah untuk susu nila). Dia adalah cairan susu, yang ternodai oleh beberapa tetes nila saja.

Aku kembali kepada kesedihan dan kegalauan itu, meninggalkan residu kebahagiaan dari mimpi dalam tidur itu.

Tetapi aku tidak kembali mengutuk Si Pendosa yang telah membawaku sedalam ini. Aku tidak kembali berusaha membunuhnya pelan-pelan dari permukaan dunia dan sel-sel otak yang sudah mati beberapa.

Layaknya melihat peristiwa yang terjadi di jalanan untuk diangkat menjadi sebuah berita atau tulisan feature, aku mencoba mencari penjelasan mengenai masalah ini dari sudut pandang lain. guna mendapatkan pemahaman utuh.

Aku melihat Pendosa sebagai orang yang bermimpi.


Sang Pendosa itu, selama ini, hanyalah seorang pemimpi. Dia tidak tertidur, tapi dia bermimpi. Dia berada dalam sebuah keadaan yang sangat menenangkan dan menghangatkan yang disediakan oleh temannya; sebut saja Dia-Yang-Terkutuk.

Sangat menenangkan, sampai-sampai Si Pendosa terikat emosinya kepada Dia-Yang-Terkutuk dalam mimpi itu. Melupakan seorang Pengharap yang telah menyakitinya di dunia nyata dan hanya memberikan kehangatan serta kasih sayang semu melalui barisan kode di dunia maya, namun tetap mencintainya dan merindukannya seperti para pecinta meriam merindukan kejayaan di tanah Inggris.

Layaknya seorang Marion Cotillard, Si Pendosa berada dalam kebingungan: apakah harus mengikuti mimpi yang lebih menenangkan daripada harus kembali kepada Pengharap yang (kini) jarang memberikan kehangatan nyata? Ia mengikuti hatinya yang telah terluka itu. Ia pun meninggalkan si Pengharap; mungkin untuk kembali tenggelam dalam kehangatan yang diberikan oleh Dia-Yang-Terkutuk ketika pada akhirnya badai ini reda. Entahlah. Aku tidak ingin membayangkan masa depan seperti Jules Verne membayangkan perjalanan ke bulan.

Si Pendosa pergi untuk bermimpi, meninggalkan si Pengharap dalam mimpi-mimpinya yang hampir mati.


Teruntuk Pendosa yang tengah tenggalam dalam air mata.

Mungkin kau sudah pernah melihat tulisan ini, bahwa di balik daging dan tulang yang dibungkus oleh kulit ini, masih ada seorang anak kecil yang merindukan kehangatanmu. Tidak peduli berapa kali kau tikam dia tepat di jantungnya, tampaknya dia berharap kau hanya tersesat sesaat agar dirinya dapat kembali padamu; tak peduli seberapa keras anak besar di luarnya mengutuk dirimu. Dia merindukan berada dalam kehangatan yang diberikan oleh seseorang yang menjadi Favourite Worst Nightmare seorang Pengharap. 

Tapi sekarang, dia mati perlahan, membawa serta harapan yang ia jaga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s