Galau

Ada orang bilang “Menulislah di kala dirimu sedang sedih karena menulis bisa menjadi penyalur emosi dan kesedihan itu sendiri.” Aku kembali menulis di sebuah halaman hasil barisan kode berupa huruf, angka, dan simbol ini memang ketika sebuah badai kegalauan (dengan skala sangat besar) melandaku.

Tapi ini bukan penyaluran emosiku.

Mungkin iya, tapi sedikit. But that’s not the main purpose I’m writing now.


Sebuah buku yang pernah kubaca menyertakan sebuah kutipan dari Pramoedya Ananta Toer, yang akhirnya kupajang di dalam situs yang telah berdebu tebal ini: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Aku setuju. Tulisan akan lebih tahan lama daripada sekedar omongan. Kita meninggalkan jejak eksistensi kita di dunia fana ini berupa tulisan tersebut. Kita abadi, dalam bentuk yang lain.

Dan itu tujuanku menulis sekarang.

Sebuah “badai” yang menerpa merenggut satu di antara sedikit sekali harapanku untuk menjalani hari-hari sebagai orang multi-peran di dunia. Sesuatu yang kuanggap sebagai satu-satunya hal nyata yang bisa menghangatkan, menenangkan, menyenangkan diriku yang belakangan ini sedang dalam keadaan tidak stabil ini. Ia pergi, meninggalkan sejuta kenangan dan barang, juga titik-titik kecil yang berkumpul menjadi banyak yang kemudian mengisi memori gawaiku sebagai rangkaian garis dan titik penuh spektrum warna.

Kehilangan itu menyadarkanku bahwa waktuku yang tersisa di sini semakin sedikit. Ya, di dunia ini. Entah berapa hari, bulan, atau tahun. Aku selalu menganggap bahwa akhir menjadi semakin dekat dengan diriku.

Jadi, sebelum eksistensiku sebagai rangkaian karbon ini menghilang dari muka bumi, aku ingin meninggalkan sedikit jejak agar this mother nature tahu bahwa pernah ada tumpukan lemak pernah berjalan menginjak-injaknya, bepikir keras, mencinta dan dicinta, mengkhianati dan dikhianati, serta menuangkan ide dan pikirannya di atas dirinya pada masa sebelumnya.


Kembali ke pelukan kegalauan juga membangkitkan sebuah blok memori yang telah hinggap dalam kepalaku sejak lama: “Apa yang seharusnya kita lakukan terhadap kegalauan?” Ada dua pilihan yang dapat menjadi jawaban pertanyaan tersebut: padamkan atau kobarkan.

Kegalauan dapat dipadamkan dengan menambah semangat terhadap hal-hal positif sehingga kita lupa dengan galau tersebut dan tetap berjalan dalam kehidupan. Pilihan lainnya adalah dengan tetap mengorbankan kegalauan tersebut dengan bahan bakar berupa material-material kesedihan yang menyebabkannya membakar semakin hebat sampai akhirnya ia padam karena kehabisan bahan bakar.

Beberapa saat lalu, seorang harapanku (ya, harapanku adalah seorang manusia. yes, it’s a she. she; a woman) yang telah pergi jauh meninggalkanku agar aku tidak lebih sedih dan sakit “terbantai” oleh kesedihan yang lebih dalam menjawab, “Galau itu harusnya dikobarkan dulu, baru kita padamkan.”

Untuk sesaat aku percaya dengan hal itu. Tapi aku tiba dalam keadaan meragukan semua hal (karena semua hal indah tersebut diragukan kebenarannya, termasuk harapanku itu. Iya, aku lebih meragukannya sekarang). Kuragukan jawabannya. Aku menunggu jawaban lain, yang lebih memuaskanku, yang lebih dapat kuterima…

…yang dapat membuatku selesai dengan seluruh urusan galau ini.

Jadi…

.

.

.

pertanyaanku sekarang adalah:

“Lebih baik tenggelam dalam kegalauan dengan kemungkinan hancur oleh tekanannya atau susah payah kabur dari kegalauan dengan kemungkinan hancur sebelum dapat keluar?”

-KK-


Teruntuk Sang Harapan yang mungkin akan membaca ini…

Kata-kata keras dan sedikit kasar ini melambangkan keadaan diriku saat ini terhadap dirimu, wahai harapan. Aku yang sekarang tetap berharap padamu, memandangmu sebagai suatu yang dapat membuat hidupku menjadi lebih indah; walaupun atas dorongan hati yang terdalam yang telah kau tikam pelan-pelan ini, aku mengutukmu pula atas hari gelap itu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s