Comic 8: Stand Up Comedy Rasa Layar Lebar

Stand Up Comedy.

Genre komedi ini sudah lahir di Indonesia sejak pertengahan tahun 2011 lalu. Seperti ide bahwa Amerika Serikat sebenarnya menyerang negara di Timur Tengah karena alasan pribadi, Stand Up Comedy secara perlahan tetapi pasti mulai diterima di Indonesia. Memang belum semua kalangan di Indonesia menerima dan menikmati Stand Up Comedy seperti mereka menikmati Srimulat atau Ludruk yang sudah lama menjadi bagian kehidupan manusia Indonesia. Namun, perlahan-lahan, penikmat Stand Up Comedy mulai bertambah dari berbagai kalangan.

Kesuksesan Stand Up Comedy mempenetrasi hati penikmat komedi di Indonesia sepertinya mendorong pihak-pihak berkepentingan untuk menghidupkan Stand Up Comedy ke dalam bentuk yang lain. Ke dalam bentuk yang bisa diterima oleh lebih banyak orang di Indonesia, yaitu bentuk rangkaian gambar bergerak yang tersusun dengan alur teratur atau yang biasa disebut film.

Alhasil, pada paruh akhir bulan Desember 2013, keluarlah berbagai pengumuman dan promosi mengenai film komedi yang akan dirilis pada 29 Januari 2014. Judulnya: COMIC 8.

Poster
(Thanks for 21cineplex.com ^_^)

Sayang, saat menulis tulisan ini, saya belum bisa menemukan artikel yang menerangkan tentang alasan di balik dibuatnya film ini. Kalo saya sedikit menganalisis dan menerka, bisa jadi para produser ingin memanfaatkan popularitas Stand Up Comedy dan komikanya untuk menyukseskan hasil produksi mereka. Bisa juga mereka ingin memperkenalkan lebih jauh lagi Stand Up Comedy kepada semua orang di Indonesia. Jadi mungkin terjadi simbiosis mutualisme antara Stand Up Comedy dan produser film. Mungkin~

Film ini kurang tepat kalau digolongkan sebagai film komedi murni. Hadirnya adegan-adegan penuh peluru, ledakan, perkelahian dengan gerak lambat, dan adegan lainnya yang ditujukan untuk memicu aliran adrenalin dalam tubuh menjadikan Comic 8 bisa dikategorikan ke dalam komedi aksi. Berkaitan dengan aksi dalam film, pertama kali menonton Comic 8, saya berpikir bahwa film ini tidak lebih dari sebuah pameran aksi tembak-tembakan yang disutradari oleh aset lokal. Adegan munculnya lubang-lubang tembakan dengan jumlah yang hampir tidak bisa dihitung dengan jari seakan memamerkan kemampuan pembuat film untuk menggunakan properti dan teknologi yang ada dalam membuat sebuah adegan aksi. Saya belum mengetahui apakah ada bantuan tangan-tangan asing dalam adegan aksi tersebut, namun penampilan tersebut layak untuk diberi apresiasi sebagai tanda bahwa aset lokal tidak kalah dari aset asing dalam membuat adegan-adegan aksi dalam film.

Dalam membuat karya, sangat tidak diperbolahkan untuk menjiplak karya lainnya. Lain halnya dengan terinspirasi dan memiliki gaya yang mirip dengan karya-karya yang sudah ada. Menonton Comic 8 seperti melihat kolaborasi antara Joe Carnahan dan Guy Ritchie. Gaya transisi antar babak yang digunakan mengingatkan saya dengan gaya-gaya yang dipakai dalam film Smokin’ Aces. Gaya adean lambat untuk menambah kesan dramatis dalam beberapa adeganpun seakan menunjukkan bahwa pembuat film terinspirasi oleh Guy Ritchie yang memang sering menggunakan gaya slow-mo dalam film-filmnya. Inspirasi kepada orang-orang luar tersebut menambah kesan dramatis dan epic dalam film ini, walaupun ada beberapa bagian yang kurang tepat dan terkesan lebai.

Desain poster yang serupa tapi tak sama dengan film-film Indonesia yang sudah beredar membuat sebuah anggapan muncul di benak beberapa calon penonton (termasuk saya ^_^) bahwa Comic 8 adalah film yang biasa dan standar saja; hanya film yang penuh adegan aksi ala Hollywood dan baris-baris komedi kodian dan renyah. Well, mungkin pembuat film sangat bernapsu untuk menjejalkan pepatah “Don’t Judge The Book by The Cover” kepada setiap orang yang berpikir demikian. Punchline dari bit-bit andalan setiap komika terdengar menghiasi setiap menit dalam gulungan film yang berputar (atau setiap megabyte file film dengan format digital). Baris-baris komedi yang mengandung kritik terhadap realita sekitar dilontarkan oleh setiap aktor yang berperan dalam film tersebut. Gaya Stand Up Comedy tersebut menyebabkan film komedi ini memiliki rasa istimewa yang membedakannya dengan film komedi lokal lainnya.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa sekarang adalah masa kebangkitan film lokal. Comic 8 adalah bagian dari kebangkitan tersebut. Genre komedi aksi yang diwarnai oleh sentuhan Stand Up Comedy yang kritis ikut meramaikan dunia komedi Indonesia yang selama ini masih didominasi oleh “golongan tua” seperti komedi slapstick. Pertunjukan Stand Up Comedy di layar lebar ini dapat menjadi alternatif penikmat film dan komedi Indonesia yang ingin menikmati suguhan lokal dengan cita rasa yang baru dan berbeda dengan yang biasa ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s