A Man Who Is Like Hachiken

I read mangas. Recently, I like and begin to read a new manga. The title is Silver Spoon.

Hachiken is on the middle, the one with glasses
Courtesy: chocolatesyrupwaffles.com

Silver Spoon menceritakan tentang seorang anak cowok bernama Hachiken yang “kabur” dari keluarganya untuk menemukan apa yang sebenarnya dia inginkan. Walaupun bertampang akademis dan pintar, ternyata dia bisa menikmati apa yang didapatnya di sebuah SMK pertanian di Hokkaido. Yaa walaupun ujung-ujungnya dia harus mengorbankan seluruh tenaga sampai tumbang dan harus dirawat di rumah sakit.

Satu hal yang menarik dari Hachiken adalah dia hampir tidak pernah menolak tawaran atau permintaan tolong apapun yang diajukan padanya. Hampir setiap orang yang minta tolong atau bantuan kepadanya dia bantu sampai masalahnya selesai. Bahkan dia dicap sebagai “Orang yang tidak mungkin berkata tidak”.

Karenanya, dia sering mendapatkan berbagai kesulitan dan kerepotan sendiri akibat menumpuknya tugas dan hal-hal yang harus dia kerjakan. Tapi tidak hanya itu. Dia juga sering mendapatkan hal-hal baik sebagai balasan dari semua pengorbanan yang dia berikan ke (hampir) semua orang. Tapi bukan itu yang sebenarnya Hachiken cari. Ia cuma ingin melihat orang lain bisa lepas dari masalahnya dan bahagia. Hanya itu.

*****

On one side, I think there’s a similarity between me and Hachiken.

I think that I am like Hachiken. Kalau dipikir dan dibandingkan, aku termasuk orang yang susah untuk nolak kalau udah ditawarkan sesuatu oleh orang lain, apalagi orang yang sudah sangat dekat. Walaupun pada akhirnya kondisi “susah nolak” itu membuatku kesulitan, tetap saja sifat “susah nolak” itu yang kembali muncul dan membuatku untuk susah nolak.

Sebenarnya, “susah nolak” itu didasari oleh satu hukum fisika oleh Newton:

Faksi = – Freaksi

Aku percaya bahwa setiap usaha yang kulakukan untuk orang lain akan mendapatkan balasan yang sama dan senilai. Entah bagaimana bentuknya atau kapan, tapi aku percaya bahwa balasan itu ada.

Tapi pada akhirnya aku bisa merasakan sebuah kesenangan dan kenikmatan dari ikut “tercebur” ke dalam setiap urusan itu. Suatu hal yang masih belum pasti sampai saat ini bisa membuatku merasa lega dan hepi dari ikut tercebur itu.

Entah apakah itu hanya sebuah justifikasi atau sebuah ketulusan hati dari gumpalan daging ini, tapi hal itu yang betul-betul kurasakan.

Ditulis di tengah kelelahan fisik dan otak dan kegalauan “indikator dan pengukuran”, diiringi Cornerstone, sebuah lagu penggalauan dari Arctic Monkeys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s