Ternyata Apel Bisa Punya Keluarga!!

P.S. This is not a sponsored blog post to promote a new movie. This is just my writing to share the kindness and spirit that I get and was inspired by Kak Iwan ^_^

Apel. Entah kenapa buah ini selalu menimbulkan hal-hal kontroversial sejak masa diciptakannya manusia pertama oleh Tuhan. Adam “diusir” dari surga Tuhan karena memakan buah yang dilarang dimakan oleh Tuhan. Buah yang dimakan oleh Adam tersebut diandaikan sebagai buah apel.

Baru-baru ini, apel juga menimbulkan sebuah kehebohan di dunia IT. Not the literally apple, but of course, apple in the other form. Not apple as a fruit, but apple as a brand. Apel hampir menguasai pikiran seluruh manusia modern di dunia dengan gadget-gadgetnya yang sedap dipandang, tapi tidak sedap bagi dompet di kantong. (Ini juga yang membuatku tidak terlalu tertarik untuk “mengoleksi” gadget Apple)

Tapi tidak hanya itu saja kehebohan-kehebohan yang ditimbulkan oleh apel. Tidak disangka-sangka, apel lokal yang berasal dari Indonesia juga bisa menimbulkan kehebohan di dalam negeri. Apel lokal ini tidak kalah hebohnya dengan apel dari Silicon Valley itu.

This local apple was brought by a man. Not just an ordinary man, but the chosen one. Seorang laki-laki yang bertahan hidup dengan berjuang melawan banyak keterbatasan. Seorang laki-laki yang telah mengalami sebuah fenomena sosial yang dinamakan mobilitas sosial vertikal. Seorang anak supir angkot dan ibu yang tidak tamat SD yang (pernah) merasakan keindahan dan detak jantung kota tersibuk di dunia, New York.

Seorang laki-laki yang kupanggil Kak Iwan Setyawan.

Lewat dua bukunya yang berjudul 9 Summers 10 Autumns : Dari Kota Apel ke The Big Apple dan ibuk,, Kak Iwan telah menggetarkan Indonesia. Lebih tepatnya hati orang-orang Indonesia (yang membaca bukunya). Kak Iwan telah “menampar” Indonesia bahwa hidup itu akan terasa manis apabila dicapai melalui perjuangan. Lebih manis lagi apabila perjuangan tersebut adalah sebuah perjuangan yang “berdarah-darah”.

Surprisingly, in order to be able to reach more people, kisah perjuangan Kak Iwan mengalami sebuah transformasi. Dari kalimat perkataan di buku menjadi dialog lisan para aktor. Dari Gang Buntu yang dibayangkan dari kalimat-kalimat menjadi Gang Buntu yang dapat dilihat langsung lewat mata. Dari tinta yang dituliskan di atas kertas menjadi gambar yang ditayangkan lewat proyektor. Dari buku menjadi film.

9 Summers 10 Autumns dibuat hidup di dunia yang lain. Dunia film. Kalau selama ini yang berbicara kepada kita adalah kertas-kertas yang diam, kali ini yang menyampaikan pesan dan semangat keluarga Kak Iwan adalah aktor dan aktris (walaupun istilah aktris tidak begitu cocok menurut Kak Hayria). Film ini akan dirilis sebentar lagi, sekitar pertengahan April menurut PH yang “menghidupkan” 9 Summers 10 Autumns The Movie. <- tidak bermaksud promosi

Baru-baru ini, PH yang bekerja sama dengan Kak Iwan mengadakan sesi sharing dan empowering (itu yang tertulis di email undangan ke acara ini) dengan para pembaca dan calon penonton 9 Summers 10 Autumns. Beberapa tempat telah dikunjungi dan sudah berhasil membentuk suatu “keluarga” yang disebut Keluarga Apel.

9 Summers 10 Autumns th
New York New York in BSD, Tangerang Selatan

24 Februari 2013, tim 9S10A mengunjungi BSD, Tangerang Selatan untuk mengadakan sesi sharing dan empowering ini. Aku, yang sedang di rumah pas weekend, memutuskan untuk datang ke acara ini. Sendiri, karena keluarga sedang tidak bisa ikut menemani dan begitu pula dengan “seorang putri yang tersayang”. Hujan, badai, (sedikit) banjir kutempuh… karena aku pergi menggunakan mobil.

I’m not gonna tell ya the whole story because this post is already too long. I’ll just tell ya the interesting points of a great day I’ve been.

Beda dari bayanganku sebelum datang ke Bangi Kopitiam hari itu, Keluarga Apel lebih dari kumpulan sharing biasa. Walaupun samar, ada benang pink (because ‘merah’ is the mainstream one) yang terasa menghubungkan anggota Keluarga Apel satu sama lain. Benang pink tersebut membuat, setidaknya, aku merasa ingin untuk mengenal dan mengetahui cerita dari masing-masing anggota Keluarga Apel. I think I’m gonna tell you some of them.

  • Mbak Vike, mbak yang udah menjadi anggota dari 2 Keluarga Apel (Bekasi & Tangerang). When she told her story, I thought that she has the not-exactly same story with my mother. And it’s really nice to hear some moving story from an “ordinary” people.
  • Kak Mega, Kak Sisca, Kak Yuni, dan dua teman cowoknya yang belum sempet kenalan. First people I talked to when I sit in Bangi Kopitiam. Kakak-kakak dari Padang ini sedang menjalankan magang di Jakarta dan menyempatkan diri untuk datang ke BSD untuk sharing bersama anggota Keluarga Apel lainnya. Katanya sih bisa diajak kerja sama kalo soal cewek. Semoga aja bisa jadi referensi di masa yang akan datang.
  • Kak Ida, kakak senior Komunikasi UI angkatan 1996! Tiba-tiba dicolek dari belakang oleh kakak kelas yang beda 16 tahun itu merupakan pengalaman yang mungkin jadi pengalaman sekali seumur hidup. Kakak yang seangkatan sama Rossa ini tinggal di Kencana Loka dan menyempatkan diri untuk datang untuk bertemu tim dan keluarga yang hebat. Semoga momen ini bisa menjadi satu titik balik dari perjalanan hidupku di Komunikasi UI.
  • Tim 9 Summers 10 Autumns The Movie: Kak Satya, Mas Edwin, Mbak Dewi Irawan, Mbak Hayria, dan mas-mbak lain yang terlihat bersemangat dan “sibuk” pas gathering Keluarga Apel Tangerang. Tanpa mereka, momen spesial ini gak bakal hadir dan aku gak bakal tergerak untuk menulis post ini. Thanks very much mas dan mbak yang selalu semangat ^_^.

Rasa terima kasih yang paling besar, banyak, dan spesial kuucapkan untuk orang yang telah menyebabkan semua ini terjadi: Kak Iwan Setyawan. Tanpa dirinya dan 9 Summers 10 Autumnsnya, tentu tidak akan ada film dengan judul yang sama. Tidak akan ada sesi sharing dan empowering yang terjadi di kopitiam itu. Tidak akan ada pertemuan antara aku dengan kakak-kakak dari Padang, atau dengan Kak Hayria, Mbak Dewi Irawan, dan Mas Edwin. Without you, there won’t be any wonderful meeting like this. So, from the deepest part of my “heart”, I’d like to say, thank you so much Kak Iwan.

"Tembus batas ketakutan"
“Tembus batas ketakutan”

Last but not least…
Sebuah pertemuan yang ajaib belum mencapai tahap yang sangat ajaib apabila pertemuan tersebut belum menghasilkan kebaikan bagi orang-orang yang mengikuti pertemuan tersebut. Seperti yang Kak Iwan harapkan, semoga pertemuan yang telah terjadi itu merupakan suatu titik di mana perjuangan kita dalam menghargai dan menaklukkan hidup dimulai. Aku cuma bisa berharap bahwa setiap anggota Keluarga Apel yang istimewa bisa berhasil dalam perjuangan di hidupnya masing-masing.

Me and my favourite team's jersey in #KeluargaApelTGR
Me and my favourite team’s jersey in #KeluargaApelTGR

Berlayar terus berlayar. Mari kita tembus batas ketakutan.

Cheers! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s