When The Midsummer Station Came to Jakarta…

“Dear Indonesia, thank you for the beautiful show! I’ve waited years to play in Jakarta and the dream finally came true. See you next year.”

Some Hoot Owls must be really happy when Adam tweeted this a year ago. Dalam keadaan euforia konser All Things Bright and Bautiful di Tennis Indoor Senayan 28 OKtober 2011, kalimat terakhir memberikan Hoot Owls kesenangan extra karena Adam akan kembali menjumpai mereka tahun depan.

But, is it a promise or just an empty hope?

Eventually, Adam fulfilled his promise to Indonesian Hoot Owls.

Sekitar bulan Juni-Juli 2012, Adrie Subono dan JAVA Musikindo mengumumkan bahwa OWl City akan kembali ke Jakarta dalam rangkaian The Midsummer Station World Tour. Dengan venue yang sama dan harga tiket yang sedikit lebih tinggi dari tahun lalu, me and my girlfriend are really excited to attend the concert. Berharap bahwa konser tahun ini akan menjadi sesuatu yang lebih “bright and beautiful” daripada tahun lalu.

That was my (and maybe most of the audience’s) worst fault for this concert: Expectation.

From the art class that I attended, I learned that expectation can be something that avoid us to appreciate and enjoy art performances. Dalam kasus Owl City ini aku berharap bahwa konser tahun ini akan sama seperti konser tahun lalu. Yaa setidaknya mirip-mirip dikit lah; Adam banyak ngobrol sama penonton, ada permainan “gesek-gesek” dari Owl City, ada banyak riff dan improvisasi dari lagu-lagu OC.

Namun ketika semua harapan tersebut tidak terwujud… Biasanya sih udah kurang bisa menikmati konser dengan sepenuh hati dan konsentrasi. Biasanya sih lebih nyari-nyari kekurangan dan kesalahan konser itu dengan referensi konser yang udah pernah dilaksanakan sebelumnya. Biasanya sih. Yaa setidaknya itu yang terjadi tanggal 14 November lalu kepada salah seorang penonton yang datang dengan perban coklat di tangan kanannya.

Anyway, let’s follow my adventure to the 2nd concert of Owl City in Jakarta…

Hujan. Satu hal yang mengiringi perjalanan kami saat dua kali nonton konser Owl City. Pamulang hujan deras, Vila Dago dan Gria Jakarta “tergenang”. Sempet cemas kalo jalanan ke Senayan bakal macet banget dan telat nonton konser.

Tapi pas sampe Senayan… kering kerontang. Gak ada tanda-tanda udah ada ujan sebelumnya. Jalanan kering, atap-atap kering, kanopi-kanopi, daun-daun, baju tukang koran di bunderan senayan, baju seragam satpam Plaza Senayan… semua kering. Agak heran dan cemas. Heran kenapa perbedaan cuaca bisa kontras gitu; cemas kalo nanti ujan pas perjalanan ke venue konser.

Dari tempat penukaran tiket JakartaConcerts.com di Plaza Senayan, kami langsung jalan ke Plaza Senayan ditemani 3 scoop es krim dan 2 sendok Baskin and Robbins. Jalannya gak begitu kerasa karena ternyata Plaza Senayan-Tennis Indoor itu sangat dekat, hanya sekitar 700 meter. Jadi (sepertinya) gak sampe 5 menit, kita udah bisa ngeliat calo-calo tiket dan penjual merchandise di sekitar tempat parkir Tennis Indoor. Ah I miss them…

Gak seperti konser tahun lalu yang ‘sedikit’ diwarnai oleh hujan, konser kali ini tidak ditemani oleh hujan. Jadi antrian di depan pintu masuk arena konser udah berubah jadi ular naga pas kami masuk jam setengah 6an. Sempet khawatir gak bakal dapet tempat yang enak, apalagi antrian untuk tempat festival itu lebih panjang daripada yang tribun. Tapi berspekulasi dan berharap aja bakal dapet tempat yang enak karena arena untuk festival itu luas dan bisa nampung banyak orang. Well, this time my prediction is right. Walaupun udah dapet posisi di belakang pas ngantri, tetep ajar dapet agar depan, walaupun agak ke samping. Tapi yaa lumayan lah, masih dapet pemandangan panggung yang lebih jelas daripada di tribun.

Waiting.. Waiting.. Waiting.. Waiting without something to do is something that I really hate. Talk with me girl, thinking, looking for (and finding) some friends, looking at cool music equipments on the stage… I do almost everything until the clock in my cellphone showed me four numbers: 2,0,1,and 5. Warnings was announced and we exactly know that the concert is about to begin. so we stand up together and calling the main performer’s name, “Adam! Adam! Adam! Adam!”

Nama tersebut berubah menjadi sebuah battle cry ketika musik intro mulai dimainkan. Tak lama, Adam pun keluar memakai jeans dan striped t-shirt. Meraih mic, ia langsung menyanyikan Dreams and Disasters. Sebuah perilaku konformitas pun terjadi di antara para penonton yang ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan oleh Owl City di atas panggung. Selanjutnya, Owl City terus membawakan lagu yang berasal dari 4 album yang berbeda; Maybe I’m Dreaming, Ocean Eyes, All Things Bright and Beautiful, dan The Midsummer Station. Konser pun dihentikan setelah lagu Take It All Away dan dilanjutkan dengan encore. Good Time (of course it’s without CRJ) dan Gold menutup konser dengan baik dan ramai.

And the concert was wrapped with a bow…
Courtesy: @MicahJohnDavies

Salah satu hal yang disayangkan (at least it was me) adalah pembawaan lagu-lagu seperti perjalanan di jalan tol Cipularang; panjang, tidak putus kecuali oleh encore, sedikit waktu istirahat setelah capek jingkrak-jingkrak. Gak seperti tahun lalu, Adam lebih sedikit berkomunikasi dengan audiens. Sekalinya ngobrol, cuma 1-2 kalimat, langsung main lagu lagi. Itu yang sangat disayangkan dari konser ini. Riff dan improvisasi untuk opening, ending, atau interlude lagu juga makin sedikit. Padahal itu tujuan utama aku nonton konser ini; untuk nyari yang beda dengan yang di rekaman yang biasa diputar sehari-hari.

Satu hal lagi yang agak mengganggu adalah tingkah gitarisnya, Jasper Nephew. On some songs, his facial expressions showed that his guitar is not working so well. He like played it but I didn’t hear any guitar sounds. Aku gak tau pendengaranku yang belum sensitif jadi belum bisa misahin bunyi antar alat musik atau memang ada problem untuk gitarnya Jasper. Tapi ekspresi mukanya mengalihkan hatiku dari kondisi “menikmati konser” jadi “investigasi peralatan”. And that’s really annoying, it make me can’t enjoy the concert.

Terlepas dari semua kekurangan yang ada, this Owl City concert is the best concert I ever watched in 2012. It’s the best because I just have watched a concert this year *smirk*. But really, Owl City can turn the empty large indoor tennis court in Senayan into a giant live-HD screen of midsummer station. I feel like I’m in the midsummer station of Adam Young; a safe place where we can retreat when things get crazy.

Me and My Angel
O my poor right hand…

P.S. I’d like say big thanks to JAVA Musikindo and Adrie Subono who brought this bright and beautiful band here; thanks to jakartaconcerts.com who have provided tickets for me and me girlfriend; thanks to everyone who have turn our Nov 14th into a good time. Special thanks to Owl City: Adam Young, Breanne Duren, Jasper Nephew, Daniel Jorgensen, and Steve Goold who have brought their Midsummer Station to Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s